Google Searching

Info

Sabtu, 11 Oktober 2014

Cara Budidaya Semut Rangrang


 Semut Rangrang

Oecophylla smaragdina merupakan nama ilmiah Semut Rangrang, Jenis semut ini adalah semut petarung berwarna merah kecoklatan, banyak hidup dipepohonan. Senjata utama yang digunakan untuk menaklukan musuh-musuhnya, bentuknya seperti layaknya capit ukuran besar. Senjata Capit ini mampu menjepit, mengoyak, mengiris, maupun menyalurkan semacam racun pelumpuh ke bagian tubuh musuhnya. 

Semut Rangrang juga identik dengan berperilaku agresif dan aksi pengeroyokan. Jika gerombolan semut penyerang mendapat serangan balik maka, dari dalam tubuh para semut yang jadi martyr, akan keluar aroma khas, yang dinamakan Zat Feromon. Dengan bantuan angin, Zat feromon bisa menyebar dengan cepat ke udara, Zat ini berfungsi sebagai alarm. memanggil koloni semut Rangrang di sekitarnya, agar datang sebagai bala bantuan.
Meski ukuran tubuhnya kecil, semut ini ternyata termasuk hewan terkuat didunia. Dalam sebuah penelitian, seekor semut jantan mampu menopang beban yang bobotnya 50x (baca: lima puluh kali) berat badannya sendiri.

 
Gambar diambil dari berbagai sumber.

Semut Rangrang ( Oecophylla smaragdina ) berkembang biak dengan cara bertelur, Popular dengan nama Kroto.  Kroto ini digunakan untuk pakan burung kicau karena mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi. Manfaat lainnya Kroto menjadi umpan ikan tertentu, sehingga banyak pemancing ikan sering menggunakan kroto sebagai umpan pancing mereka.
Terbatasnya suplay kroto ini membuat harganya menjadi sangat mahal, dipasaran saat ini harga Kroto berkisar Rp 100 ribu rupiah perkilonya. harganya yang cukup tinggi membuat kroto menjadi peluang bisnis dengan cara  membudidayakan semut rangrang.

Permasalahannya adalah bagaimana cara membudidayakan semut kroto dalam memenuhi kelangkaan telur semut / kroto. Nah bagi anda yang berminat untu mengembangkan budidaya semut ini saya berikan linknya dari ebook yang saya dapatkan dari berbagai sumber di internet.

Silahkan download link dibawah ini:
Panduan Budidaya Semut Rangrang Kroto 1
Panduan budidaya Semut Rangrang Kroto 2

Panduan Budidaya semut rangrang Ziddu 01
Panduan Budidaya semut rangrang Ziddu 02


Minggu, 14 September 2014

Sinopsis Serial Mahabarata


Sinopsis Serial Mahabarata

Sinopsis Serial Mahabarata

Kitab Mahabharata (Sanskerta: महाभारत) adalah sebuah karya sastra kuno yang konon ditulis oleh Begawan Byasa atau Vyasa dari India. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab). Namun, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi.

Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.
Sumber: http://id.wikipedia.org

Sinopsis Serial Mahabarata yang ditayangkan pada bulan agustus september 2014 di AN TV:

Mahabharata Subtitle Episode 171 
Mahabharata Subtitle Episode 172 
Mahabharata Subtitle Episode 173 
Mahabharata Subtitle Episode 174 
Mahabharata Subtitle Episode 175  
Mahabharata Subtitle Episode 176 
Mahabharata Subtitle Episode 177 
Mahabharata Subtitle Episode 178 
Mahabharata Subtitle Episode 179 
Mahabharata Subtitle Episode 180 

 


Kalau muncul pesan  “Limit Access”  pada link diatas, gunakan backup link dibawah ini, (isinya sama).

Sabtu, 21 Juni 2014

Perbedaan Gula Pasir, Gula Batu dan Gula Merah

Dalam kehidupan sehari hari Gula merupakan makanan favorit semua orang karena rasanya yang manis. Gula banyak dibuat orang sebagai campuran berbagai jenis makanan dan minuman. Penggunaan gula biasanya dengan cara menambahkan pada makanan dan minuman, jarang orang yang mengonsumsi gula secara langsung. 

Ada 3 jenis gula yang dikenal dimasyarakat, yaitu Gula pasir, Gula batu dan Gula merah atau Gula Aren. Ketiga jenis gula ini memiliki dampak yang berbeda bagi kesehatan tubuh, khususnya Pankreas. Berikut ini pemaparan dari masing masing gula terhadap kesehatah tubuh:

1. Gula Pasir 

Gula pasir adalah jenis gula yang berbentuk butiran kecil seperti pasir (putih kecoklatan). Gula pasir merupakan jenis yang paling banyak digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena bentuknya yang berupa butiran kecil, sehingga mudah larut dalam makanan dan minuman sangat mudah digunakan. 

Dampak penggunaan gula pasir terhadap tubuh terutama pankreas?
Untuk mengubah gula pasir menjadi gula darah, tubuh hanya memerlukan waktu 3 menit. Tetapi untuk mengubah gula darah menjadi energi yang dapat disimpan dalam otot, pankreas memerlukan waktu kira-kira 140 menit. Mengapa? 

Dalam Proses pembuatannya, gula pasir dipanaskan sampai dengan 400 derajat Celcius. Semakin tinggi proses pemanasan makanan, makanan akan semakin sulit dicerna. 

Dalam satu hari, pankreas yang normal hanya mampu mengubah 5 gram (½ sendok) gula pasir menjadi energi. Bagaimana jika kita mengkonsumsi lebih dari ½ sendok gula pasir? Sisa gula pasir yang tidak bisa diproses oleh pankreas akan tertimbun dalam tubuh menjadi gula darah dan lemak. Lama-kelamaan tubuh kita akan terkena penyakit diabetes.

2.  Gula Batu

Gula Batu adalah jenis gula yang berbentuk seperti batu (bening/putih, mirip dengan es batu). Proses pembuatannya hampir sama dengan gula pasir, namun suhu yang diperlukan untuk memprosesnya tidak setinggi pada gula pasir. Dalam satu hari, pankreas yang normal mampu mengubah 60 gram (sekitar 6 sendok makan) gula batu menjadi energi. Dengan prosenya yang tidak memerlukan panas yang tinggi maka Gula batu tergolong lebih sehat dibanding gula pasir. 

3. Gula Merah

Gula Merah dikenal juga dengan nama Gula Jawa atau Gula Aren adalah gula yang dibuat dari bunga pohon kelapa/aren, biasanya lebih sering digunakan untuk bumbu dapur. Dalam satu hari, kondisi normal pankreas mampu mengubah 90 gram (sekitar 9 sendok makan) gula merah menjadi energi. 

Jika dibandingkan dari semua Gula yang sering dipakai, gula merah merupakan gula yang paling sehat di antara Gula Pasir dan Gula Batu. Agar Pankreas anda tetap sehat, sebaiknya kita mengurangi konsumsi gula, baik itu Gula Merah, Gula batu, terlebih lagi Gula Pasir. Pankreas mempunyai batas kemampuan untuk mengubah gula menjadi energi, dan jika pankreas sudah tidak mampu melakukan tugasnya, maka tubuh bisa terkena penyakit Diabetes.

#Dampak Gula Bagi Tubuh  #Dampak Gula Bagi Pankreas

Berita Lainnya:



Jenis-jenis Gula Yang Anda Ketahui

Dalam kehidupan kita Gula merupakan nama yang populer, bahkan Gula merupakan makanan favorit setiap orang. Tapi tahukah anda banyak sekali Jenis-jenis gula dan berbagai produk terkait dengannya.

Gula: umumnya digunakan sebagai padanan kata untuk sakarosa. Secara kimiawi gula identik dengan karbohidrat.

 Berikut ini beberapa jenis istilah dari Gula:

1. Gula Anggur : Padanan kata dari glukosa.

2. Gula Barbados : gula tebu yang berwarna coklat.

3. Gula Barley : bukan termasuk gula, melainkan permen Amerika yang keras dan memiliki citarasa jeruk lemon, terbuat dari cairan barley dengan penambahan gula.

4. Gula batu : Rasanya tidak semanis gula granulasi biasa, gula batu diperoleh dari kristal bening berukuran besar berwarna putih atau kuning kecoklatan. Kristal bening dan putih dibuat dari larutan gula jenuh yang mengalami kristalisasi secara lambat. Gula batu putih memiliki rekahan-rekahan kecil yang memantulkan cahaya. Kristal berwarna kuning kecoklatan mengandung berbagai karamel. Gula ini kurang manis karena adanya air dalam kristal.

5. Gula Bit : Berbentuk gula kristal putih (sakarosa) yang diperoleh dari tanaman bit.

6. Gula bubuk : Gula granulasi (gula pasir) bubuk, juga dikenal sebagai gula ‘confectionary'. Gula ini didapat dari penghancuran secara mekanis sehingga tidak ada cristal-kristal yang tertinggal. Terkadang gula ini dicampur dengan sedikit pati atau bahan anti kempal untuk mencegah penggumpalan.

7. Gula Castor : Gula castor atau caster adalah nama dari gula pasir yang sangat halus, terdapat di Britania. Dinamai demikian karena ukuran butirannya sangat kecil sehingga dapat ditaburkan dari wadah berlubang-lubang kecil. Karena kehalusannya, gula ini lebih cepat larut dibandingkan gula putih pada umumnya, dan oleh karenanya gula ini secara khusus bermanfaat dalam pembuatan ‘meringues' dan cairan dingin. Gula ini tidaklah sehalus gula bubuk yang dihaluskan secara mekanis (dan biasanya dicampur dengan sedikit pati untuk menghindari penggumpalan).

8. Gula Coklat : gula yang ditambah dengan sedikit molase (tetes) untuk memberikan citarasa dan warna.

9. Gula Dekorasi : lihat gula sdaning.

10.Gula Gelatin (padanan kata gula gel, gula selai/ jam): campuran dari gula granulasi dan pektin. Digunakan dalam pembuatan selai dan ‘marmelade'.

11.Gula Granulasi (Gula pasir) : Kristal-kristal gula berukuran kecil yang pada umumnya dijumpai dan digunakan di rumah (gula pasir).

12.Gula inversi : Gula inversi dibuat dengan menggabungkan sirup gula dengan sedikit asam (seperti pada krim tartar atau jus lemon) dan pemanasan. Proses ini mengubah, atau memecah, sakarosa menjadi dua komponen, glukosa dan fruktosa, sehingga menurunkan ukuran kristal-kristal gula. Karena struktur kristalnya yang halus, gula inversi menghasilkan produk yang lebih halus dan digunakan dalam pembuatan berbagai jenis permen seperti fondant, dan berbagai sirup. Proses pembuatan jam dan selai secara otomatis menghasilkan gula inversi dengan menggabungkan asam alami dalam buah dengan gula granulasi dan memanaskan campuran tersebut.

13.Gula Jagung: glukosa yang diperoleh dari jagung.

14.Gula Jawa : gula yang mengalami pemurnian sebagian, berasal dari Indonesia. Terbuat dari tebu ataupun palm (kelapa).

15.Gula kristal: gula bit atau tebu berbentuk granulasi seperti gula pada umumnya, lihat sakarosa. Dijual dalam bentuk gula butiran/pasir atau dicetak dalam bentuk gula kubus.

16. Gula Malt: lihat maltosa.

17.Gula meja: gula tebu atau gula bit butiran pada umumnya, lihat sakarosa.

18.Gula Muscovado : gula coklat gelap.

19.Gula mutiara (Pearl sugar) : lihat gula sdaning.

20.Gula Palma (kelapa/ kurma) : gula yang didapatkan dari palma ataupun kurma.Terutama mengandung sakarosa.

21.Gula sangat halus: suatu jenis gula di USA. Merupakan gula granulasi yang sangat halus, lihat gula Castor.

22.Gula Sdaning: Gula Sdaning merupakan gula kasar atau gula dekorasi. Kristalnya berukuran 4 kali lipat lebih besar dari gula granulasi pada umumnya. Digunakan untuk menghias makanan-makanan yang dipanggang dengan oven .

23.Gula Spun (Spun sugar) : gula lembut hasil dari pendidihan gula sehingga dapat dibentuk dan digunakan untuk dekorasi berbagai hidangan penutup. Pembuatan gula spun diawali dengan pemasakan gula, air dan krim tartar hingga menjadi keras tapi tetap mudah dibentuk. Kemudian dapat dibentuk seperti gumpalan helaian benang dengan menggunakan garpu pengocok dan dioleskan ke permukaan kue untuk dekorasi

24.Gula susu: lihat laktosa.

25.Gula Tebu : gula kristal putih (sakarosa) yang diperoleh dari tanaman tebu. Terkadang dijual dalam bentuk gula coklat (brown sugar) di Eropa.

26.Gula Vanila : gula beraroma dan citarasa harum yang khas dibuat dengan cara memendam biji-biji vanilla dalam gula pasir; biasanya dengan takaran dua biji vanila untuk setiap satu pound gula. Campuran tersebut disimpan dalam wadah kedap udara selama sekitar satu minggu sebelum biji-biji vanila tadi dipisahkan kembali. Hasilnya berupa gula dengan rasa dan aroma yang harum yang dapat digunakan untuk bahan baku ataupun penghias ‘baked goods', buah dan hidangan penutup lainnya. Biji-biji vanila dapat digunakan kembali sampai dengan dengan 6 bulan. Gula Vanilla dapat juga dibuat dari ekstrak vanillin (vanili) murni. Citarasanya sama kuatnya dengan vanilla tetapi tetap dapat dibedakan. Gula ini dinamai gula-vanillin.

27. Gur (padanan kata jaggery): gula yang mengalami pemurnia n sebagian, berasal dari India. Terbuat dari tebu ataupun palm (kelapa).

 28.HFCS : High Fruktose Corn Syrup (Gula Jagung Kaya Fruktosa). Suatu sirup yang didapatkan dari pati jagung. Mula-mula pati dipecah menjadi glukosa secara enzimatis, kemudian glukosa ini diubah lagi secara enzimatis menjadi fruktosa yang memiliki rasa lebih manis. Digunakan sebagai pemanis kadar tinggi.

 29.Icing (Icing sugar) : gula bubuk yang digunakan sebagai krim gula (gula pelapis) pada cake.

30.Jaggery (padanan kata gur): gula yang mengalami pemurnian sebagian, berasal dari India. Terbuat dari tebu ataupun palm (kelapa).

31. Karamel : berbagai produk yang diperoleh dari hasil pemanasan gula. Senyawa-senyawa ini berwarna coklat hingga hitam dan menghasilkan aroma khas. Digunakan sebagai pewarna makanan dan aroma rasa.

32.Laktosa: gula yang terdapat pada susu, suatu kombinasi dari galaktosa dan glukosa.

33.Levulosa : padanan kata untuk fruktosa

34.Madu : merupakan larutan 80% gula dalam air. Gula utama yang ada dalam madu adalah fruktosa, glukosa dan sakarosa.

 35.Maltosa (padanan kata gula malt) : gula yang terdapat pada malt dan bir.

 36.Sirup Mapel : sirup yang didapatkan dari pohon mapel yang terdapat di America Utara. Sirup ini merupakan larutan 70% sakarosa dan glukosa dalam air. Penyusun utamanya adalah sakarosa.

 37.Melis : jenis gula meja pada umumnya, yang agak halus. Dari kawasan Skandinavia.

 38.Molase : Produk samping dari pembuatan gula, berwarna coklat. Terutama tersusun dari berbagai karamel dan mineral. Dipakai dalam pembuatan gula coklat (brown sugar).

39.Oligosakarida : karbohidrat rantai pendek yang didapatkan dari polisakarida berukuran besar atau dengan proses enzimatis. Banyak terdapat dalam tanaman (kacang-kacangan, bawang) atau susu. Rasanya tidak manis atau sedikit manis. Digunakan sebagai prebiotik, bukan untuk pemanis produk.

40. Panela: lihat piloncillo

41.Panocha: lihat piloncillo

42.Pemanis: senyawa pemanis bukan karbohidrat. Kebanyakan merupakan pemanis buatan tetapi beberapa di antaranya adalah pemanis alami. Tingkat kemanisan pemanis berkisar dari 0,8 kali manisnya gula (seperti misalnya sorbitol) hingga 2000 kali (protein thaumatin).

43.Piloncillo (padanan kata panela, panocha): gula tebu dari Mexico yang mengalami pemurnian sebagian. Gula ini dicetak dalam bentuk kerucut; namanya berarti menara kerucut kecil .

44.Sakarosa (padanan kata sukrosa, gula meja, gula kristal): nama kimia resmi dari jenis utama gula dan gula ini terutama digunakan dalam berbagai produk maupun di rumah tangga.

45. Sirup : suatu larutan yang sangat kental berupa gula dalam air. Kandungan gula berkisar 50-80%.

46. Sukrosa : Istilah bahasa Inggris untuk sakarosa.


Beberapa Istilah Dalam Gula


Gula ternyata memiliki banyak istilah. berikut ini  berbagai istilah dalam yang berkaitan dengan gula dan berbagai produk terkait seperti istilah berikut ini:

1.  Brix (derajat): Suatu pengukuran yang digunakan untuk menentukan jumlah gula ( Kadar Rasa manis )  dalam sebuah larutan, berdasarkan pada pembiasan cahaya. Terutama digunakan dalam industri minuman ringan dan minuman buah.

2.  Dekstrosa : Istilah bahasa Inggris untuk glukosa.

3.  Fruktosa (padanan kata levulosa, gula buah): gula yang agak manis (1,7 kali lebih manis dari gula biasa) umumnya didapat dari buah-buahan dan madu.

4. Galaktosa: suatu gula yang tidak umum dijumpai dalam makanan, kecuali sebagai bagian dari jenis gula yang lain, seperti laktosa (gula susu) dan raffinosa (gula dalam kacang-kacangan). Seringkali merupakan bagian dari komponen dinding sel tanaman.

5. Glukosa (padanan kata dekstrosa): gula yang terdapat pada berbagai tanaman, juga dalam darah. Sumber energi yang utama bagi tubuh. Kurang manis dibandingkan sakarosa. Gula anggur : padanan kata dari glukosa.

Gula: umumnya digunakan sebagai padanan kata untuk sakarosa. Secara kimiawi gula identik dengan karbohidrat.
  
 
Berita Lainnya:

Rumah Adat Provinsi Kepulauan Riau




Provinsi Kepulauan Riau
Rumah Adat : Rumah Selaso Jatuh Kembar

Gambar: Dari berbagai sumber

Minggu, 25 Mei 2014

Rumah Adat Provinsi Papua Barat ( Rumah Honai )


Rumah Adat Provinsi Papua Barat ( Rumah Honai )

Rumah Adat Provinsi Papua Barat
Rumah Adat : Rumah Honai

Rumah Adat Provinsi Lampung ( Nowou Sesat )



Rumah Adat Provinsi Lampung ( Nowou Sesat )

Provinsi Lampung memiliki Rumah Adat :NOWOU SESAT

Foto: Dari berbagai sumber

Rumah Adat Provinsi Bali ( Rumah Gapura Candi Bentar )


Rumah Adat Provinsi Bali ( Rumah Gapura Candi Bentar )

Rumah Adat Provinsi Bali

Rumah Adat : Rumah Gapura Candi Bentar
Rumah Gapura Candi Bentar merupakan rumah adat resmi Provinsi Bali. Hunian tradisional ini tergolong salah satu yang terunik di tanah air. Dalam Rumah Gapura Candi Bentar dan rumah adat Bali lainnya memiliki nilai-nilai spiritualitas, tradisi, dan estetika, berpadu harmonis menghadirkan pesona kebudayaan yang adiluhung.

Istilah “Gapura Candi Bentar” sendiri sejatinya merujuk pada bangunan gapura yang menjadi gerbang pada rumah-rumah tradisional Bali. Gapura tersebut terdiri dari dua buah candi serupa dan sebangun, tetapi merupakan simetri cermin, yang membatasi sisi kiri dan kanan pintu masuk ke pekarangan rumah. Gapura tersebut tidak memiliki atap penghubung pada bagian atas, sehingga kedua sisinya terpisah sempurna, dan hanya terhubung dibagian dalam oleh anak-anak tangga yang menjadi jalan masuk.
Selain di Pulau Bali, gapura dengan tipe seperti ini juga bisa dijumpai di Pulau Jawa dan daerah Lombok. Gapura Candi Bentar pertama kali mucul pada zaman Majapahit. Di area bekas Kesultanan Mataram, di Jawa Tengah dan Yogyakarta, gerbang serupa ini juga dikenal dengan sebutan “supit urang” (capit udang).
  • Bagian dan Fungsi Rumah Adat Bali 
Prawata (2004; 8) menjelaskan bahwa rumah, bagi orang Bali adalah keseluruhan bangunan dalam pekarangan yang bisanya dikelilingi tembok (panyengker). Berikut adalah bangunan-bangunan yang dimaksud beserta masing-masing fungsinya. Sanggah atau pamerajan yang merupakan tempat suci bagi keluarga, panginjeng karang yang merupakan tempat untuk memuja roh yang menjaga pekarangan, bale manten, yakni tempat tidutr kepala keluarga, gadis, serta menyimpan barang berharga (kadang digunakan pasangan yang baru menikah), bale gede/bale adat sebagai tempat upacara lingkaran hidup, yang dalam kehidupan sehari-hari digunakan sebagai bale serbaguna, bale dauh sebagai tempat kerja, pertemuan, dan tempat tidur anak laki-laki, paon atau dapur sebagai tempat memasak, dan lumbung, sebagai tempat menyimpan padi/hasil bumi.
  • Nilai-nilai dalam Rumah Adat Bali
Rumah Gapura Candi Bentar, dan rumah adat Bali lainnya, memiliki ciri khas yang tidak ditemui di daerah lainnya di tanah air, bahkan di dunia. Rumah Bali dibangun dengan aturan yang disebut Asta Kosala Kosali, yakni filosofi yang mengatur tatahubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.
Umumnya, sudut utara-timur adalah tempat yang lebih disucikan, sehingga diletakan ruang-ruang yang lebih dinilai suci, sedangkan sudut barat-selatan merupakan sudut yang lebih rendah derajat kesuciannya dalam tata ruang rumah, yang biasanya merupakan arah masuk ke hunian atau untuk bangunan lain seperti kamar mandi dan lain-lain.
Ditinjau dari sudut pandang ilmu bumi, arsitektur Bali menyesuaikan dengan iklim tropis Indonesia dan keadaan dataran tinggi maupun rendah. Di daerah dataran tinggi pada umumnya bangunannya kecil-kecil dan tertutup, demi menyesuaikan keadaan lingkungannya yang cenderung dingin. Tinggi dinding di buat pendek, untuk menghindari sirkulasi udara yang terlalu sering. Luas dan bentuk pekarangan relatif sempit dan tidak beraturan disesuaikan dengan topografi tempat tinggalnya. Sementara untuk daerah dataran rendah, pekarangannya relatif luas dan datar sehingga bisa dimanfaatkan sebagai temapt berkumpul massa untuk agenda-agenda adat tertentu, yang umumnya berdinding terbuka, di mana masing-masing mempunyai fungsi tersendiri.



Dari segi material, bahan bangungan yang digunakan bergantung pada tingkat kemapanan si pemiliknya. Masyarakat biasa menggunakan popolan (speci yang terbuat dari lumpur tanah liat) untuk dinding bangunan, sedangkan golongan raja dan brahmana menggunakan tumpukan bata-bata. Untuk tempat suci/tempat pemujaan baik milik satu keluarga maupun milik suatu kumpulan kekerabatan, menggunakan bahan sesuai kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Seperti untuk bahan atap menggunakan ijuk bagi yang ekonominya mampu, sedangkan bagi yang ekonominya kurang mampu bisa menggunakan alang-alang atau genteng.

Rumah Adat Provinsi Bali ( Rumah Gapura Candi Bentar )
Rumah Adat Provinsi Bali ( Rumah Gapura Candi Bentar )

Rumah Adat Provinsi Bali ( Rumah Gapura Candi Bentar )
Rumah Adat Provinsi Bali ( Rumah Gapura Candi Bentar )

Rumah Adat Provinsi Bali ( Rumah Gapura Candi Bentar )
Rumah Adat Provinsi Bali ( Rumah Gapura Candi Bentar )





Foto dan Isi: dari berbagai sumber

Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat ( Rumah Tongkonan )


Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat ( Rumah Tongkonan )

Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat (SULBAR)
Rumah Adat : Rumah Tongkonan


Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat ( Rumah Tongkonan )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat ( Rumah Tongkonan )

Tongkonan adalah rumah adat masyarakat Toraja. Atapnya melengkung menyerupai perahu, terdiri atas susunan bambu (saat ini sebagian tongkonan menggunakan atap seng). Di bagian depan terdapat deretan tanduk kerbau. Bagian dalam ruangan dijadikan tempat tidur dan dapur. Tongkonan digunakan juga sebagai tempat untuk menyimpan mayat. Tongkonan berasal dari kata tongkon (artinya duduk bersama-sama). Tongkonan dibagi berdasarkan tingkatan atau peran dalam masyarakat (stara sosial Masyarakat Toraja). Di depan tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (banga) saat ini sebagian sudah dicor. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari (disebut pa'bare' allo), yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.


Khususnya di Sillanan-Pemanukan (Tallu Lembangna) yang dikenal dengan istilah Ma'duangtondok terdapat tongkonan yaitu Tongkonan Karua (delapan rumah tongkonan) dan Tongkonan A'pa'(empat rumah tongkonan) yang memegang peranan dalam masyarakat sekitar.

Tongkonan karua terdiri dari:

    Tongkonan Pangrapa'(Kabarasan)
    Tongkonan Sangtanete Jioan
    Tongkonan Nosu (To intoi masakka'na)
    Tongkonan Sissarean
    Tongkonan Karampa' Panglawa padang
    Tongkonan Tomentaun
    Tongkonan To'lo'le Jaoan
    Tongkonan To Barana'

Tongkonan A'pa' terdiri dari:

    Tongkonan Peanna Sangka'
    Tongkonan To'induk
    Tongkonan Karorrong
    Tongkonan Tondok Bangla' (Pemanukan)

Banyak rumah adat yang konon dikatakan tongkonan di Sillanan, tetapi menurut masyarakat setempat, bahwa yang dikatakan tongkonan hanya 12 seperti tercatat di atas. Rumah adat yang lain disebut banua pa'rapuan. Yang dikatakan tongkonan di Sillanan adalah rumah adat di mana turunannya memegang peranan dalam masyarakat adat setempat. Keturunan dari tongkonan menggambarkan strata sosial masyarakat di Sillanan. Contoh Tongkonan Pangrapa' (Kabarasan)/ pemegang kekuasaan pemerintahan. Bila ada orang yang meninggal dan dipotongkan 2 ekor kerbau, satu kepala kerbau dibawa ke Tongkonan Pangrapa' untuk dibagi-bagi turunannya.

 


Stara sosial di masayarakat Sillanan di bagi atas 3 tingkatan yaitu:

    Ma'dika (darah biru/keturunan bangsawan);
    To Makaka (orang merdeka/bebas);
    Kaunan (budak), budak masih dibagi lagi dalam 3 tingkatan.

Sejarah Kabarasan:

Pada awalnya Kabarasan dipegang oleh Tintribuntu yang berkedudukan di Buntu Lalanan (rumah adat Buntu sebelah barat). Kemudian Anaknya Tintribuntu yaitu Tome kawin dengan anak dari Tongkonan Sangtanete Jioan (Tongkonan Sangtanete sebelah timur). Sampai dipertahankan oleh Pong Paara' di Sangtanete Jioan. Setelah Pong Paara' meninggal (tidak ada anaknya), akhirnya muncul pemberani dari Doa' (Rumah adat Doa') yaitu So'Padidi (alias Pong Arruan). Kabarasan dipindahkann ke Doa'. Kekuasaan lemah di Doa' setelah So' Padidi meninggal, karena semua anaknya adalah perempuan 3 orang, sehingga muncul tipu muslihat yang mengatakan bahwa bisa dipotongkan kerbau 3 ekor saja. Karena minimal kerbau dikorbankan adalah 4, maka Doa' dianggap tidak mampu memegang kekuasaan. Akhirnya dibawa Boroalla ke Tonngkonan Pangrapa', sampai saat ini.

Sumber : Dari berbagai sumber

Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah ( JOGLO )


Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah ( JOGLO )
Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah ( JOGLO )


Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah (JATENG)

Rumah Adat : JOGLO Jawa Tengah.


Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah ( JOGLO )
Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah ( JOGLO )

Foto: Dari berbagai sumber



Rumah Adat Provinsi Banten ( Rumah Badui )



Rumah Adat Provinsi Banten ( Rumah Badui )
Rumah Adat Provinsi Banten ( Rumah Badui )

Rumah Adat Provinsi Banten Ibukota nya adalah Serang
Rumah Adatnya adalah  : Rumah Badui

Foto: Dari berbagai sumber

Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta ( Rumah Kebaya )


Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta ( Rumah Kebaya )


Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta
Rumah Adat : Rumah Kebaya, Rumah Bapang


Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta ( Rumah Kebaya )
Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta ( Rumah Kebaya )

Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta ( Rumah Kebaya )
Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta ( Rumah Kebaya )

Foto: Dari berbagai sumber

Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung ( Rumah Rakit, Rumah Limas )


Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung ( Rumah Rakit, Rumah Limas )
Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung ( Rumah Rakit, Rumah Limas )

Provinsi Bangka Belitung (BABEL)
Rumah Adat : Rumah Rakit, Rumah Limas

Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung ( Rumah Rakit, Rumah Limas )
 Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung ( Rumah Rakit, Rumah Limas )

Foto: Dari berbagai sumber

Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon )


Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon )

Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (JABAR) yaitu dikenal dengan sebutan Rumah Adat : Rumah Kasepuhan Cirebon

Keraton Kasepuhan didirikan sekitar tahun 1529 oleh Pangeran Cakrabuana, putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran. Keraton ini merupakan perluasan dari Keraton Pakungwati, yang merupakan keraton yang telah ada sebelumnya. Walaupun telah berusia tua, kompleks bangunan tradisional ini masih terawat dengan baik.

Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon )
Foto: www.apakatajapra.wordpress.com

Bagian-bagian Keraton Kasepuhan Cirebon

Berikut adalah bagian-bagian penting yang terdapat dalam kompleks Keraton Kasepuhan:

    1.Pintu Gerbang Utama Keraton Kasepuhan

Pintu gerbang ini terletak di sebelah utara, sementara pintu gerbang kedua berada di selatan kompleks. Gerbang utara disebut Kreteg Pangrawit  berupa jembatan, sedangkan di sebelah selatan disebut LawangSanga (pintu sembilan). Setelah melewati Kreteg (jembatan) Pangrawit akan sampai di bagian depan keraton. Di bagian ini terdapat dua bangunan, yaitu Pancaratna dan Pancaniti.

    2. Bangunan Pancaratna

Berada di kiri depan kompleks arah Barat, berdenah persegi panjang, dengan ukuran 8 x 8 m. Lantai tegel, konstruksi atap ditunjang empat sokoguru di atas lantai yang lebih tinggi, dan 12 tiang pendukung di permukaan lantai yang lebih rendah. Atap dari bahan genteng, pada puncaknya terdapat mamolo. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat seba atau tempat yang menghadap para pembesar desa atau kampung yang diterima oleh Demang atau Wedana. Secara keseluruhan memiliki pagar besi.

    3. Bangunan Pangrawit

Berada di kiri depan kompleks menghadap arah Utara. Bangunan ini berukuran 8 x 8 m, berantai tegel. Bangunan ini terbuka tanpa dinding. Tiang-tiang yang berjumlah 16 buah mendukung atap sirap. Bangunan ini memiliki pagar terali besi. Nama Pancaniti berasal dari panca berarti jalan, dan niti yang berarti mata atau raja atau atasan. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat perwira melatih prajurit, tempat istirahat, dan juga sebagai tempat pengadilan.


Halaman/kompleks dalam keraton kasepuhan Cirebon dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

    1. Halaman Pertama

Setelah melewati Pancaratna dan Pancaniti selanjutnya memasuki halaman pertama. Untuk memasukinya, bisa melewati Gapura Adi atau Gapura Banteng. Gapura Adi berupa pintu gerbang berbentuk bentar berukuran 3,70 x 1,30 x 5 m menggunakan bahan bata. Gapura Adi ini berada di utara Siti Inggil. Gapura Benteng berupa pintu gerbang dengan bentuk bentar berukuran 4,50 x 9 m. Pintu ini lebih besar dan tinggi daripada Gapura Adi. Pada pipi tangga sebelah Timur terdapat stilirisasi bentuk banteng.

Halaman pertama merupakan kompleks Siti Inggil, di kompleks terdapat beberapa bangunan, antara lain:

    Mande Pendawa Lima, yang berfungsi untuk tempat duduk pengawal Raja.
    Mande Malang Semirang, yang berfungsi sebagai tempat duduk raja timadu menyaksikan acara di alun-alun.
    Mande Semar Timandu, adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat duduk penghulu atau penasehat raja.
    Mande Karesmen, yaitu bangunan sebagi tempat menampilkan kesenian untuk raja.
    Mande Pengiring yaitu bangunan sebagai tempat mengiring raja. Selain bangunan tersebut masih ada satu bangunan lagi yaitu bangunan Pengada. Bangunan ini berukuran 17 x 9,5 m, berfungsi sebagai tempat membagi berkat dan tempat pemeriksaan sebelum menghadap raja.

   2. Halaman kedua

Halaman kedua dibatasi tembok bata. Pada pagar bagian Utara terdapat dua gerbang, yaitu Regol Pengada dan gapura lonceng. Regol Pengada merupakan pintu gerbang masuk halaman ketiga dengan ukuran panjang dasar 5 x 6,5 m. Gerbang yang berbentuk paduraksa ini menggunakan batu dan daun pintunya dari kayu. Gapura Lonceng terdapat di sebelah Timur Gerbang Pangada dengan ukuran panjang dasar 3,10 x 5 x 3 m. Gerbang ini berbentuk kori agung  (gapura beratap) menggunakan bahan bata.

    Halaman Pengada. Halaman Pengada berukuran 37 x 37 m yang berfungsi untuk memarkirkan kendaraan atau menambatkan kuda. Di halaman ini dahulu ada sumur untuk memberi minum kuda.
    Halaman kompleks Langgar Agung, merupakan halaman di mana terdapat bangunan kompleks Langgar Agung. Bangunan Langgar Agung menghadap ke arah Timur, memiliki bangunan utama dengan ukuran 6 x 6 m. Teras 8 x 2, 5 m. Jadi bangunan ini berbentuk “T” terbalik Karena teras depan lebih besar dari bangunan utama. Bagian teras berdinding kayu setengah dari permukaan lantai, kemudian setengah bagian atas diberi terali kayu. Dinding bangunan utama merupakan dinding tembok. Mihrab berbentuk melengkung berukuran 5 x 3 x 3 m. Di dalam mihrab tersebut terdapat mimbar terbuat dari kayu berukuran 0,90x 0,70×2 m. Atap Langgar Agung merupakan atap tumpang dua dengan menggunakan sirap. Konstruksi atap disangga 4 tiang utama. Langgar Agung ini memiliki halaman dengan ukuran 37 x 17 m. Langgar ini berfungsi sebagai tempat ibadah kerabat keraton. Bangunan Langgar Agung dilengkapi pula dengan Pos Bedug Somogiri. Bangunan yang menghadap ke Timur ini berdenah bujursangkar berukuran 4 x 4 m yang di dalamnya terdapat bedug (tambur). Bangunan ini tanpa dinding dan atap berbentuk limas, penutup atap didukung 4 tiang utama dan 5 tiang pendukung.





3. Halaman Ketiga

Halaman ketiga merupakan kompleks inti Keraton Kasepuhan. Di dalamnya terdapat beberapa bangunan seperti:
Taman Bunderan Dewandaru.
Taman ini berdenah bulat, telur terbuat dari batu cadas. Memiliki arti dari namanya, bunder, yang berarti sepakat. Dewa berarti dewa dan ndaru artinya cahaya. Arti keseluruhan adalah “orang yang menerangi sesama mereka yang masih hidup dalam masa kegelapan”. Luas taman 20 m2. Di taman ini terdapat nandi, pohon soko sebagai lambang bersuka hati, 2 patung macan putih merupakan lambang Pajajaran, meja dan bangku, 2 buah meriam yang dinamai Ki Santomo dan Nyi Santoni.

Museum Benda Kuno.
Bangunan yang menghadap Timur berbentuk “E”. Terdapat 2 pintu untuk memenuhi bangunan tersebut. Di sini disimpan benda-benda kuno Keraton Kasepuhan.
Museum Kereta.
Bangunan ini menghadap barat dan teat di Timur Taman Bunderan Dewandaru ini berukuran 13,5 x 11 m. Di Museum Kereta tersimpan kereta-kereta dan barang lainnya.
Tunggu Manunggal.
Bangunan ini berupa batu pendek ± 50 cm, dikelilingi 8 buah pot bunga yang melambangkan Allah yang satu zat sifatnya.
Lunjuk.
Bangunan yang menghadap Timur ini berukuran 10 x 7 m yang berfungsi melayani tamu dalam mencatat dan melaporkan urusannya menghadap raja.
Sri Manganti.
Bangunan ini berada di Timur tugu manunggal berbentuk bujursangkar. Bangunan ini terbuka tanpa dinding, bungbungan berbentuk joglo dan atap genteng didukung dengan 4 tiang soko guru, 12 tiang tengah dan 12 tiang luar. Langit-langit dipenuhi ukiran-ukiran yang berwarna putih dan coklat. Bangunan ini bernama Sri Manganti karena arti sri artinya raja, manganti artinya menunggu. Sehinggra artinya secara keseluruhan tempat menunggu keputusan raja.
Bangunan Induk Keraton.
Bangunan induk keraton merupakan tempat aktivitas Sultan, dalam bangunan ini terdapat beberapa ruangan dengan fungsi yang berbeda, yaitu :

Kuncung dan Kutagara Wadasan.
Kuncung berupa bangunan berukuran 2,5 x 2,5 x 2,5 m yang digunakan parkir kendaraan sultan.
Kutagara Wadasan adalah gapura yang bercat putih dengan gaya khas Cirebon berukuran lebar 2,5 m dan tinggi ± 2,5 m. Gaya Cirebon tampak pada bagian bawah kaki gapura yang berukiran wadasan dan bagian atas dengan ukiran mega mendung. Arti ukiran tersebut seseorang harus mempunyai pondasi yang kuat jika sudah menjadi pimpinan atau sultan harus bisa mengayomi bawahan dan rakyatnya.

Jinem Pangrawit,
yaitu bangunan yang berfungsi sebagai serambi keraton. Nama jinem Pangrawit berasal dari kata jinem atau kajineman berarti tempat tugas dan Pangrawit berasal dari kata rawit berati kecil, halus atau bagus. Lantai marmer, dinding tembok berwarna putih dan dihiasi keramik Eropa. Atap didukung 4 tiang sokoguru kayu dengan umpak beton. Ruangan ini digunakan sebagai tempat Pangeran Patih dan wakil sultan dalam menerima tamu.

Gajah Nguling,
yaitu ruangan tanpa dinding dan terdapat 6 tiang bulat bergaya tiang tuscan setinggi 3 m. Lantai tegel dan langit-langit berwarna hijau. Ruangan ini tidak memanjang lurus tapi menyerong (membengkok) dan kemudian menyatu dengan bangsal Pringandani. Bentuk ruangan ini mengambil bentuk gajah yang sedang Nguling (menguak) dengan belalainya yang bengkok. Ruangan ini dibangun oleh Sultan Sepuh IX pada tahun 1845.

Bangsal Pringgandani,
merupakan ruangan yang berada di sebelah selatan ruangan Gajah Nguling. Ruangan ini memiliki 4 tiang utama segi empat berwarna hijau yang berfungsi sebagai tempat menghadap para Bupati Cirebon, Kuningan, Indramayu dan Majalengka. Sewaktu-waktu dipakai pula sebagai tempat sidang warga keraton.

Bangsal Prabayasa,
berada di selatan bangsal Pringgandani. “Prabayasa” berasal dari kata praba artinya sayap dan yasa artinya besar. Kata-kata tersebut mengandung arti bahwa Sultan melindungi rakyatnya dengan kedua tangannya yang besar. Pada dinding ruangan terdapat relief yang diberi nama Kembang Kanigaran berarti lambing kenegaraan. Maksudnya Sri Sultan dalam pemerintahannya harus welas asih pada rakyatnya.

Bangsal Agung Panembahan,
merupakan ruangan yang berada di selatan dan satu meter lebih tinggi dari bangsal Prabayaksa. Fungsinya sebagai singgasana Gusti Panembahan. Ruangan ini masih asli dan belum ada perubahan sejak dibangun tahun 1529.

Pungkuran,
merupakan ruangan serambi yang terletak di belakang Keraton. Tempat ini berfungsi sebagai tempat meletakan sesaji pada waktu peringatan Maulid Nabi Muhamad.

Bangunan Dapur Maulud,
berada di depan Kaputren dengan arah hadap Timur yang berfungsi sebagai tempat memasak persiapan peringatan Maulid Nabi SAW.

Pamburatan,
merupakan bangunan yang berada di selatan Kaputren. Pambuaran artinya menggurat atau mengerik. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat mengerik kayu-kayu wangi (kayu untuk boreh) untuk kelengkapan selamatan Maulud Nabi SAW.

 Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon )

Keraton Kasepuhan dan Masyarakat

Hingga kini, Keraton Kasepuhan masih terawat dengan baik, dan sering kali menjadi pusat kegiatan masyarakat, terutma dalam ritus-ritus sosial budaya. Berikut adalah beberapa kegiatan rutin yang biasa digelar di Keraton Kasepuhan:

1) Syawalan Gunung Jati,
2) Ganti Welit,
3) Rajaban,
4) Ganti Sirap,
5) Muludan,
6) Salawean Trusmi, dan
7) Nadran. 

Selain menjadi pusat pelestarian budaya, Keraton Kasepuhan juga menjadi salah satu destinasi wisata di Jawa Barat.



Berita dan Foto: Dari berbagai sumber

Makanan Khas Provinsi Aceh

Nusantara tercinta ini banyak memiliki keaneka ragaman salah satunya adalah kuliner. Daerah istimewa Aceh memiliki ciri khas tersendiri dalam hal kuliner. Makanan Khas Provinsi Aceh Berikut beberapa jenis makanan khas di Provinsi Aceh :

1. Timphan
Timphan adalah kue/hidangan khas Aceh disaat lebaran/hari raya baik hari raya Idul fitri maupun Idul Adha, Timphan ini dibuat 1 atau 2 hari sebelum lebaran dan daya tahannya bisa mencapai lebih kurang seminggu,Timphan adalah menu hidangan utama buat tamu yang berkunjung kerumah saat lebaran. Bagi orang Aceh baik yang berada di Aceh sampai seluruh dunia tiada yang tidak mengenal nama kue/adonan yang satu ini,karena sudah menjadi tradisi turun temurun dan rahasia umum di Aceh bahwa yang namanya Timphan setiap ibu-ibu atau wanita di Aceh bisa membuatnya.
Timphan yang merupakan makanan lembek berbalut daun pisang muda ini yang paling terkenal adalah Timphan rasa srikaya. Sebelum menjelang lebaran bisanya ibu-ibu sudah menyiapkan daun pisang muda baik memetik di kebun atau beli dipasar. Saking terkenalnya Timphan ini di Aceh, sehingga banyak ungkapan/pribahasa dengan kata Timphan diantaranya yaitu “Uroe goet buluen goet Timphan ma peugoet beumeuteme rasa” ( Hari baik bulan baik Timphan ibu buat harus dapat kurasakan).

2. Gulai Plik U
Gulai Plik U merupakan salah satu jenis masakan yang terkenal di Aceh. Aroma dan rasanya sangat menggugah selera setiap orang yang mencicipinya. Bahan dasar yang digunakan untuk membuat gulai Plik U ini adalah dari Kelapa yang telah dibusukkan dan kemudian dijemur hingga berwarna kecokelatan. Di samping itu, masih banyak bumbu-bumbu dan sayur-sayuran yang merupakan pelengkap gulai Plik U. Plik U dapat ditemui di seluruh penjuru Aceh.
Setiap daerah di Aceh memiliki cara yang berbeda dalam memasak gulai Plik U, begitu juga dengan jenis sayur-sayuran yang digunakan. Akan tetapi, kebanyakan orang Aceh Besar memilih daun Melinjo, buah Melinjo muda, Nangka muda, Pepaya muda, daun Pakis, Kacang Panjang, Jantung Pisang dan daun Jeruk. Selain itu, berbagai macam bumbu pelezat juga digunakan, seperti: cabe rawit, bawang putih, bawang merah, jahe, ketumbar, dll. Kemudian, Bumbu-bumbu tersebut digiling halus dan dimasukkan ke dalam wajan. Selanjutnya, sayur-sayuran yang telah dirajang juga dimasukkan ke dalam wajan, kemudian ditambah Santan dan Plik U serta Garam. Orang Aceh Besar juga menambahkan Siput sebagai pelengkap dan pelezat. Kuah Plik U ini dimasak sekitar dimasak sekitar 15 menit di atas api sedang.

3. Bhoi
Kue Bhoi adalah penganan khas Aceh Besar yang dikenal luas oleh masyarakat Aceh. Bentuk kue ini sangat bervariasi, seperti; bentuk ikan, bintang, bunga, dan lain-lain. Kue Bhoi ini dapat menjadikan salah satu buah tangan ketika akan berkunjung ke sanak saudara atau tetangga yang mengadakan hajatan atau pesta, seperti sunatan dan kelahiran.
Kue Bhoi juga dijadikan sebagai salah satu isi dari bingkisan seserahan yang dibawa oleh calon pengantin pria untuk calon pengantin perempuan pada saat acara pernikahan. Kue Bhoi sendiri biasanya diperoleh di pasar-pasar tradisional ataupun dipesan langsung pada pembuatnya. Proses pembuatan kue Bhoi ini pun tergolong sedikit rumit. Pasalnya, tidak semua orang bisa membuat kuliner ini dan dibutuhkan kesabaran serta keuletan.

4. Keukarah
Kue Keukarah ini merupakan kue tradisional Aceh, bentuknya unik seperti sarang burung, dengan rasanya yang manis dan garing, cocok menjadi oleh-oleh jika berkunjung kedaerah ini.  Alamat Lokasi : Sentra Produksi: Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Dapat dibeli dipusat pertokoan Kota Jantho. Cara Menuju Lokasi : Bisa menggunakan kendaraan umum. Kue Keukarah dibuat dari tepung beras dan di masak dengan cara digoreng. Kue ini biasanya juga menjadi antaran seserahan bagi mempelai yang menikah.

5. Ikan Masam keueng
Ikan Masam Keueng adalah masakan Aceh dengan kuah yang mempunyai rasa asam dan pedas. Alamat Lokasi : Dapat dibeli di rumah makan ataupun restoran didaerah ini, karena setiap rumah makan menyajikan menu masakan ini. Cara Menuju Lokasi : Bisa menggunakan kendaraan umum, Ikan asam keueng adalah salah satu masakan Aceh dengan rasa asam dan pedas, rasa asam karena memakai belimbing wuluh, yaitu buah yang biasanya dipakai untuk memasak lauk-pauk.

Minggu, 11 Mei 2014

Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan ( Rumah limas )


umah Adat Provinsi Sumatera Selatan ( Rumah limas )
Rumah limas
umah Adat Provinsi Sumatera Selatan ( Rumah limas )



 Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan ( Rumah limas )


Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan ( Rumah limas )

#Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan  #Rumah limas

Foto : dari berbagai sumber
Posting Lainnya:
Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan
Rumah Adat Provinsi Jambi
Rumah Adat Provinsi Riau
Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat
Rumah Provinsi Papua



Rumah Adat Provinsi Jambi ( Rumah Panjang )






Rumah Adat Provinsi Jambi Rumah Panjang




 Rumah Adat Provinsi Jambi Rumah Panjang


 #Rumah Adat Provinsi Jambi #Rumah Panjang

Foto : dari berbagai sumber
Posting Lainnya:
Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan
Rumah Adat Provinsi Jambi
Rumah Adat Provinsi Riau
Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat
Rumah Provinsi Papua

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mobi Info

...

Lazada Promo