Google Searching

Info

Minggu, 25 Mei 2014

Rumah Adat Provinsi Papua Barat ( Rumah Honai )


Rumah Adat Provinsi Papua Barat ( Rumah Honai )

Rumah Adat Provinsi Papua Barat
Rumah Adat : Rumah Honai

Rumah Adat Provinsi Lampung ( Nowou Sesat )



Rumah Adat Provinsi Lampung ( Nowou Sesat )

Provinsi Lampung memiliki Rumah Adat :NOWOU SESAT

Foto: Dari berbagai sumber

Rumah Adat Provinsi Bali ( Rumah Gapura Candi Bentar )


Rumah Adat Provinsi Bali ( Rumah Gapura Candi Bentar )

Rumah Adat Provinsi Bali

Rumah Adat : Rumah Gapura Candi Bentar
Rumah Gapura Candi Bentar merupakan rumah adat resmi Provinsi Bali. Hunian tradisional ini tergolong salah satu yang terunik di tanah air. Dalam Rumah Gapura Candi Bentar dan rumah adat Bali lainnya memiliki nilai-nilai spiritualitas, tradisi, dan estetika, berpadu harmonis menghadirkan pesona kebudayaan yang adiluhung.

Istilah “Gapura Candi Bentar” sendiri sejatinya merujuk pada bangunan gapura yang menjadi gerbang pada rumah-rumah tradisional Bali. Gapura tersebut terdiri dari dua buah candi serupa dan sebangun, tetapi merupakan simetri cermin, yang membatasi sisi kiri dan kanan pintu masuk ke pekarangan rumah. Gapura tersebut tidak memiliki atap penghubung pada bagian atas, sehingga kedua sisinya terpisah sempurna, dan hanya terhubung dibagian dalam oleh anak-anak tangga yang menjadi jalan masuk.
Selain di Pulau Bali, gapura dengan tipe seperti ini juga bisa dijumpai di Pulau Jawa dan daerah Lombok. Gapura Candi Bentar pertama kali mucul pada zaman Majapahit. Di area bekas Kesultanan Mataram, di Jawa Tengah dan Yogyakarta, gerbang serupa ini juga dikenal dengan sebutan “supit urang” (capit udang).
  • Bagian dan Fungsi Rumah Adat Bali 
Prawata (2004; 8) menjelaskan bahwa rumah, bagi orang Bali adalah keseluruhan bangunan dalam pekarangan yang bisanya dikelilingi tembok (panyengker). Berikut adalah bangunan-bangunan yang dimaksud beserta masing-masing fungsinya. Sanggah atau pamerajan yang merupakan tempat suci bagi keluarga, panginjeng karang yang merupakan tempat untuk memuja roh yang menjaga pekarangan, bale manten, yakni tempat tidutr kepala keluarga, gadis, serta menyimpan barang berharga (kadang digunakan pasangan yang baru menikah), bale gede/bale adat sebagai tempat upacara lingkaran hidup, yang dalam kehidupan sehari-hari digunakan sebagai bale serbaguna, bale dauh sebagai tempat kerja, pertemuan, dan tempat tidur anak laki-laki, paon atau dapur sebagai tempat memasak, dan lumbung, sebagai tempat menyimpan padi/hasil bumi.
  • Nilai-nilai dalam Rumah Adat Bali
Rumah Gapura Candi Bentar, dan rumah adat Bali lainnya, memiliki ciri khas yang tidak ditemui di daerah lainnya di tanah air, bahkan di dunia. Rumah Bali dibangun dengan aturan yang disebut Asta Kosala Kosali, yakni filosofi yang mengatur tatahubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.
Umumnya, sudut utara-timur adalah tempat yang lebih disucikan, sehingga diletakan ruang-ruang yang lebih dinilai suci, sedangkan sudut barat-selatan merupakan sudut yang lebih rendah derajat kesuciannya dalam tata ruang rumah, yang biasanya merupakan arah masuk ke hunian atau untuk bangunan lain seperti kamar mandi dan lain-lain.
Ditinjau dari sudut pandang ilmu bumi, arsitektur Bali menyesuaikan dengan iklim tropis Indonesia dan keadaan dataran tinggi maupun rendah. Di daerah dataran tinggi pada umumnya bangunannya kecil-kecil dan tertutup, demi menyesuaikan keadaan lingkungannya yang cenderung dingin. Tinggi dinding di buat pendek, untuk menghindari sirkulasi udara yang terlalu sering. Luas dan bentuk pekarangan relatif sempit dan tidak beraturan disesuaikan dengan topografi tempat tinggalnya. Sementara untuk daerah dataran rendah, pekarangannya relatif luas dan datar sehingga bisa dimanfaatkan sebagai temapt berkumpul massa untuk agenda-agenda adat tertentu, yang umumnya berdinding terbuka, di mana masing-masing mempunyai fungsi tersendiri.



Dari segi material, bahan bangungan yang digunakan bergantung pada tingkat kemapanan si pemiliknya. Masyarakat biasa menggunakan popolan (speci yang terbuat dari lumpur tanah liat) untuk dinding bangunan, sedangkan golongan raja dan brahmana menggunakan tumpukan bata-bata. Untuk tempat suci/tempat pemujaan baik milik satu keluarga maupun milik suatu kumpulan kekerabatan, menggunakan bahan sesuai kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Seperti untuk bahan atap menggunakan ijuk bagi yang ekonominya mampu, sedangkan bagi yang ekonominya kurang mampu bisa menggunakan alang-alang atau genteng.

Rumah Adat Provinsi Bali ( Rumah Gapura Candi Bentar )
Rumah Adat Provinsi Bali ( Rumah Gapura Candi Bentar )

Rumah Adat Provinsi Bali ( Rumah Gapura Candi Bentar )
Rumah Adat Provinsi Bali ( Rumah Gapura Candi Bentar )

Rumah Adat Provinsi Bali ( Rumah Gapura Candi Bentar )
Rumah Adat Provinsi Bali ( Rumah Gapura Candi Bentar )





Foto dan Isi: dari berbagai sumber

Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat ( Rumah Tongkonan )


Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat ( Rumah Tongkonan )

Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat (SULBAR)
Rumah Adat : Rumah Tongkonan


Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat ( Rumah Tongkonan )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat ( Rumah Tongkonan )

Tongkonan adalah rumah adat masyarakat Toraja. Atapnya melengkung menyerupai perahu, terdiri atas susunan bambu (saat ini sebagian tongkonan menggunakan atap seng). Di bagian depan terdapat deretan tanduk kerbau. Bagian dalam ruangan dijadikan tempat tidur dan dapur. Tongkonan digunakan juga sebagai tempat untuk menyimpan mayat. Tongkonan berasal dari kata tongkon (artinya duduk bersama-sama). Tongkonan dibagi berdasarkan tingkatan atau peran dalam masyarakat (stara sosial Masyarakat Toraja). Di depan tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (banga) saat ini sebagian sudah dicor. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari (disebut pa'bare' allo), yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.


Khususnya di Sillanan-Pemanukan (Tallu Lembangna) yang dikenal dengan istilah Ma'duangtondok terdapat tongkonan yaitu Tongkonan Karua (delapan rumah tongkonan) dan Tongkonan A'pa'(empat rumah tongkonan) yang memegang peranan dalam masyarakat sekitar.

Tongkonan karua terdiri dari:

    Tongkonan Pangrapa'(Kabarasan)
    Tongkonan Sangtanete Jioan
    Tongkonan Nosu (To intoi masakka'na)
    Tongkonan Sissarean
    Tongkonan Karampa' Panglawa padang
    Tongkonan Tomentaun
    Tongkonan To'lo'le Jaoan
    Tongkonan To Barana'

Tongkonan A'pa' terdiri dari:

    Tongkonan Peanna Sangka'
    Tongkonan To'induk
    Tongkonan Karorrong
    Tongkonan Tondok Bangla' (Pemanukan)

Banyak rumah adat yang konon dikatakan tongkonan di Sillanan, tetapi menurut masyarakat setempat, bahwa yang dikatakan tongkonan hanya 12 seperti tercatat di atas. Rumah adat yang lain disebut banua pa'rapuan. Yang dikatakan tongkonan di Sillanan adalah rumah adat di mana turunannya memegang peranan dalam masyarakat adat setempat. Keturunan dari tongkonan menggambarkan strata sosial masyarakat di Sillanan. Contoh Tongkonan Pangrapa' (Kabarasan)/ pemegang kekuasaan pemerintahan. Bila ada orang yang meninggal dan dipotongkan 2 ekor kerbau, satu kepala kerbau dibawa ke Tongkonan Pangrapa' untuk dibagi-bagi turunannya.

 


Stara sosial di masayarakat Sillanan di bagi atas 3 tingkatan yaitu:

    Ma'dika (darah biru/keturunan bangsawan);
    To Makaka (orang merdeka/bebas);
    Kaunan (budak), budak masih dibagi lagi dalam 3 tingkatan.

Sejarah Kabarasan:

Pada awalnya Kabarasan dipegang oleh Tintribuntu yang berkedudukan di Buntu Lalanan (rumah adat Buntu sebelah barat). Kemudian Anaknya Tintribuntu yaitu Tome kawin dengan anak dari Tongkonan Sangtanete Jioan (Tongkonan Sangtanete sebelah timur). Sampai dipertahankan oleh Pong Paara' di Sangtanete Jioan. Setelah Pong Paara' meninggal (tidak ada anaknya), akhirnya muncul pemberani dari Doa' (Rumah adat Doa') yaitu So'Padidi (alias Pong Arruan). Kabarasan dipindahkann ke Doa'. Kekuasaan lemah di Doa' setelah So' Padidi meninggal, karena semua anaknya adalah perempuan 3 orang, sehingga muncul tipu muslihat yang mengatakan bahwa bisa dipotongkan kerbau 3 ekor saja. Karena minimal kerbau dikorbankan adalah 4, maka Doa' dianggap tidak mampu memegang kekuasaan. Akhirnya dibawa Boroalla ke Tonngkonan Pangrapa', sampai saat ini.

Sumber : Dari berbagai sumber

Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah ( JOGLO )


Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah ( JOGLO )
Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah ( JOGLO )


Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah (JATENG)

Rumah Adat : JOGLO Jawa Tengah.


Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah ( JOGLO )
Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah ( JOGLO )

Foto: Dari berbagai sumber



Rumah Adat Provinsi Banten ( Rumah Badui )



Rumah Adat Provinsi Banten ( Rumah Badui )
Rumah Adat Provinsi Banten ( Rumah Badui )

Rumah Adat Provinsi Banten Ibukota nya adalah Serang
Rumah Adatnya adalah  : Rumah Badui

Foto: Dari berbagai sumber

Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta ( Rumah Kebaya )


Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta ( Rumah Kebaya )


Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta
Rumah Adat : Rumah Kebaya, Rumah Bapang


Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta ( Rumah Kebaya )
Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta ( Rumah Kebaya )

Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta ( Rumah Kebaya )
Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta ( Rumah Kebaya )

Foto: Dari berbagai sumber

Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung ( Rumah Rakit, Rumah Limas )


Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung ( Rumah Rakit, Rumah Limas )
Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung ( Rumah Rakit, Rumah Limas )

Provinsi Bangka Belitung (BABEL)
Rumah Adat : Rumah Rakit, Rumah Limas

Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung ( Rumah Rakit, Rumah Limas )
 Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung ( Rumah Rakit, Rumah Limas )

Foto: Dari berbagai sumber

Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon )


Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon )

Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (JABAR) yaitu dikenal dengan sebutan Rumah Adat : Rumah Kasepuhan Cirebon

Keraton Kasepuhan didirikan sekitar tahun 1529 oleh Pangeran Cakrabuana, putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran. Keraton ini merupakan perluasan dari Keraton Pakungwati, yang merupakan keraton yang telah ada sebelumnya. Walaupun telah berusia tua, kompleks bangunan tradisional ini masih terawat dengan baik.

Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon )
Foto: www.apakatajapra.wordpress.com

Bagian-bagian Keraton Kasepuhan Cirebon

Berikut adalah bagian-bagian penting yang terdapat dalam kompleks Keraton Kasepuhan:

    1.Pintu Gerbang Utama Keraton Kasepuhan

Pintu gerbang ini terletak di sebelah utara, sementara pintu gerbang kedua berada di selatan kompleks. Gerbang utara disebut Kreteg Pangrawit  berupa jembatan, sedangkan di sebelah selatan disebut LawangSanga (pintu sembilan). Setelah melewati Kreteg (jembatan) Pangrawit akan sampai di bagian depan keraton. Di bagian ini terdapat dua bangunan, yaitu Pancaratna dan Pancaniti.

    2. Bangunan Pancaratna

Berada di kiri depan kompleks arah Barat, berdenah persegi panjang, dengan ukuran 8 x 8 m. Lantai tegel, konstruksi atap ditunjang empat sokoguru di atas lantai yang lebih tinggi, dan 12 tiang pendukung di permukaan lantai yang lebih rendah. Atap dari bahan genteng, pada puncaknya terdapat mamolo. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat seba atau tempat yang menghadap para pembesar desa atau kampung yang diterima oleh Demang atau Wedana. Secara keseluruhan memiliki pagar besi.

    3. Bangunan Pangrawit

Berada di kiri depan kompleks menghadap arah Utara. Bangunan ini berukuran 8 x 8 m, berantai tegel. Bangunan ini terbuka tanpa dinding. Tiang-tiang yang berjumlah 16 buah mendukung atap sirap. Bangunan ini memiliki pagar terali besi. Nama Pancaniti berasal dari panca berarti jalan, dan niti yang berarti mata atau raja atau atasan. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat perwira melatih prajurit, tempat istirahat, dan juga sebagai tempat pengadilan.


Halaman/kompleks dalam keraton kasepuhan Cirebon dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

    1. Halaman Pertama

Setelah melewati Pancaratna dan Pancaniti selanjutnya memasuki halaman pertama. Untuk memasukinya, bisa melewati Gapura Adi atau Gapura Banteng. Gapura Adi berupa pintu gerbang berbentuk bentar berukuran 3,70 x 1,30 x 5 m menggunakan bahan bata. Gapura Adi ini berada di utara Siti Inggil. Gapura Benteng berupa pintu gerbang dengan bentuk bentar berukuran 4,50 x 9 m. Pintu ini lebih besar dan tinggi daripada Gapura Adi. Pada pipi tangga sebelah Timur terdapat stilirisasi bentuk banteng.

Halaman pertama merupakan kompleks Siti Inggil, di kompleks terdapat beberapa bangunan, antara lain:

    Mande Pendawa Lima, yang berfungsi untuk tempat duduk pengawal Raja.
    Mande Malang Semirang, yang berfungsi sebagai tempat duduk raja timadu menyaksikan acara di alun-alun.
    Mande Semar Timandu, adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat duduk penghulu atau penasehat raja.
    Mande Karesmen, yaitu bangunan sebagi tempat menampilkan kesenian untuk raja.
    Mande Pengiring yaitu bangunan sebagai tempat mengiring raja. Selain bangunan tersebut masih ada satu bangunan lagi yaitu bangunan Pengada. Bangunan ini berukuran 17 x 9,5 m, berfungsi sebagai tempat membagi berkat dan tempat pemeriksaan sebelum menghadap raja.

   2. Halaman kedua

Halaman kedua dibatasi tembok bata. Pada pagar bagian Utara terdapat dua gerbang, yaitu Regol Pengada dan gapura lonceng. Regol Pengada merupakan pintu gerbang masuk halaman ketiga dengan ukuran panjang dasar 5 x 6,5 m. Gerbang yang berbentuk paduraksa ini menggunakan batu dan daun pintunya dari kayu. Gapura Lonceng terdapat di sebelah Timur Gerbang Pangada dengan ukuran panjang dasar 3,10 x 5 x 3 m. Gerbang ini berbentuk kori agung  (gapura beratap) menggunakan bahan bata.

    Halaman Pengada. Halaman Pengada berukuran 37 x 37 m yang berfungsi untuk memarkirkan kendaraan atau menambatkan kuda. Di halaman ini dahulu ada sumur untuk memberi minum kuda.
    Halaman kompleks Langgar Agung, merupakan halaman di mana terdapat bangunan kompleks Langgar Agung. Bangunan Langgar Agung menghadap ke arah Timur, memiliki bangunan utama dengan ukuran 6 x 6 m. Teras 8 x 2, 5 m. Jadi bangunan ini berbentuk “T” terbalik Karena teras depan lebih besar dari bangunan utama. Bagian teras berdinding kayu setengah dari permukaan lantai, kemudian setengah bagian atas diberi terali kayu. Dinding bangunan utama merupakan dinding tembok. Mihrab berbentuk melengkung berukuran 5 x 3 x 3 m. Di dalam mihrab tersebut terdapat mimbar terbuat dari kayu berukuran 0,90x 0,70×2 m. Atap Langgar Agung merupakan atap tumpang dua dengan menggunakan sirap. Konstruksi atap disangga 4 tiang utama. Langgar Agung ini memiliki halaman dengan ukuran 37 x 17 m. Langgar ini berfungsi sebagai tempat ibadah kerabat keraton. Bangunan Langgar Agung dilengkapi pula dengan Pos Bedug Somogiri. Bangunan yang menghadap ke Timur ini berdenah bujursangkar berukuran 4 x 4 m yang di dalamnya terdapat bedug (tambur). Bangunan ini tanpa dinding dan atap berbentuk limas, penutup atap didukung 4 tiang utama dan 5 tiang pendukung.





3. Halaman Ketiga

Halaman ketiga merupakan kompleks inti Keraton Kasepuhan. Di dalamnya terdapat beberapa bangunan seperti:
Taman Bunderan Dewandaru.
Taman ini berdenah bulat, telur terbuat dari batu cadas. Memiliki arti dari namanya, bunder, yang berarti sepakat. Dewa berarti dewa dan ndaru artinya cahaya. Arti keseluruhan adalah “orang yang menerangi sesama mereka yang masih hidup dalam masa kegelapan”. Luas taman 20 m2. Di taman ini terdapat nandi, pohon soko sebagai lambang bersuka hati, 2 patung macan putih merupakan lambang Pajajaran, meja dan bangku, 2 buah meriam yang dinamai Ki Santomo dan Nyi Santoni.

Museum Benda Kuno.
Bangunan yang menghadap Timur berbentuk “E”. Terdapat 2 pintu untuk memenuhi bangunan tersebut. Di sini disimpan benda-benda kuno Keraton Kasepuhan.
Museum Kereta.
Bangunan ini menghadap barat dan teat di Timur Taman Bunderan Dewandaru ini berukuran 13,5 x 11 m. Di Museum Kereta tersimpan kereta-kereta dan barang lainnya.
Tunggu Manunggal.
Bangunan ini berupa batu pendek ± 50 cm, dikelilingi 8 buah pot bunga yang melambangkan Allah yang satu zat sifatnya.
Lunjuk.
Bangunan yang menghadap Timur ini berukuran 10 x 7 m yang berfungsi melayani tamu dalam mencatat dan melaporkan urusannya menghadap raja.
Sri Manganti.
Bangunan ini berada di Timur tugu manunggal berbentuk bujursangkar. Bangunan ini terbuka tanpa dinding, bungbungan berbentuk joglo dan atap genteng didukung dengan 4 tiang soko guru, 12 tiang tengah dan 12 tiang luar. Langit-langit dipenuhi ukiran-ukiran yang berwarna putih dan coklat. Bangunan ini bernama Sri Manganti karena arti sri artinya raja, manganti artinya menunggu. Sehinggra artinya secara keseluruhan tempat menunggu keputusan raja.
Bangunan Induk Keraton.
Bangunan induk keraton merupakan tempat aktivitas Sultan, dalam bangunan ini terdapat beberapa ruangan dengan fungsi yang berbeda, yaitu :

Kuncung dan Kutagara Wadasan.
Kuncung berupa bangunan berukuran 2,5 x 2,5 x 2,5 m yang digunakan parkir kendaraan sultan.
Kutagara Wadasan adalah gapura yang bercat putih dengan gaya khas Cirebon berukuran lebar 2,5 m dan tinggi ± 2,5 m. Gaya Cirebon tampak pada bagian bawah kaki gapura yang berukiran wadasan dan bagian atas dengan ukiran mega mendung. Arti ukiran tersebut seseorang harus mempunyai pondasi yang kuat jika sudah menjadi pimpinan atau sultan harus bisa mengayomi bawahan dan rakyatnya.

Jinem Pangrawit,
yaitu bangunan yang berfungsi sebagai serambi keraton. Nama jinem Pangrawit berasal dari kata jinem atau kajineman berarti tempat tugas dan Pangrawit berasal dari kata rawit berati kecil, halus atau bagus. Lantai marmer, dinding tembok berwarna putih dan dihiasi keramik Eropa. Atap didukung 4 tiang sokoguru kayu dengan umpak beton. Ruangan ini digunakan sebagai tempat Pangeran Patih dan wakil sultan dalam menerima tamu.

Gajah Nguling,
yaitu ruangan tanpa dinding dan terdapat 6 tiang bulat bergaya tiang tuscan setinggi 3 m. Lantai tegel dan langit-langit berwarna hijau. Ruangan ini tidak memanjang lurus tapi menyerong (membengkok) dan kemudian menyatu dengan bangsal Pringandani. Bentuk ruangan ini mengambil bentuk gajah yang sedang Nguling (menguak) dengan belalainya yang bengkok. Ruangan ini dibangun oleh Sultan Sepuh IX pada tahun 1845.

Bangsal Pringgandani,
merupakan ruangan yang berada di sebelah selatan ruangan Gajah Nguling. Ruangan ini memiliki 4 tiang utama segi empat berwarna hijau yang berfungsi sebagai tempat menghadap para Bupati Cirebon, Kuningan, Indramayu dan Majalengka. Sewaktu-waktu dipakai pula sebagai tempat sidang warga keraton.

Bangsal Prabayasa,
berada di selatan bangsal Pringgandani. “Prabayasa” berasal dari kata praba artinya sayap dan yasa artinya besar. Kata-kata tersebut mengandung arti bahwa Sultan melindungi rakyatnya dengan kedua tangannya yang besar. Pada dinding ruangan terdapat relief yang diberi nama Kembang Kanigaran berarti lambing kenegaraan. Maksudnya Sri Sultan dalam pemerintahannya harus welas asih pada rakyatnya.

Bangsal Agung Panembahan,
merupakan ruangan yang berada di selatan dan satu meter lebih tinggi dari bangsal Prabayaksa. Fungsinya sebagai singgasana Gusti Panembahan. Ruangan ini masih asli dan belum ada perubahan sejak dibangun tahun 1529.

Pungkuran,
merupakan ruangan serambi yang terletak di belakang Keraton. Tempat ini berfungsi sebagai tempat meletakan sesaji pada waktu peringatan Maulid Nabi Muhamad.

Bangunan Dapur Maulud,
berada di depan Kaputren dengan arah hadap Timur yang berfungsi sebagai tempat memasak persiapan peringatan Maulid Nabi SAW.

Pamburatan,
merupakan bangunan yang berada di selatan Kaputren. Pambuaran artinya menggurat atau mengerik. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat mengerik kayu-kayu wangi (kayu untuk boreh) untuk kelengkapan selamatan Maulud Nabi SAW.

 Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon )

Keraton Kasepuhan dan Masyarakat

Hingga kini, Keraton Kasepuhan masih terawat dengan baik, dan sering kali menjadi pusat kegiatan masyarakat, terutma dalam ritus-ritus sosial budaya. Berikut adalah beberapa kegiatan rutin yang biasa digelar di Keraton Kasepuhan:

1) Syawalan Gunung Jati,
2) Ganti Welit,
3) Rajaban,
4) Ganti Sirap,
5) Muludan,
6) Salawean Trusmi, dan
7) Nadran. 

Selain menjadi pusat pelestarian budaya, Keraton Kasepuhan juga menjadi salah satu destinasi wisata di Jawa Barat.



Berita dan Foto: Dari berbagai sumber

Makanan Khas Provinsi Aceh

Nusantara tercinta ini banyak memiliki keaneka ragaman salah satunya adalah kuliner. Daerah istimewa Aceh memiliki ciri khas tersendiri dalam hal kuliner. Makanan Khas Provinsi Aceh Berikut beberapa jenis makanan khas di Provinsi Aceh :

1. Timphan
Timphan adalah kue/hidangan khas Aceh disaat lebaran/hari raya baik hari raya Idul fitri maupun Idul Adha, Timphan ini dibuat 1 atau 2 hari sebelum lebaran dan daya tahannya bisa mencapai lebih kurang seminggu,Timphan adalah menu hidangan utama buat tamu yang berkunjung kerumah saat lebaran. Bagi orang Aceh baik yang berada di Aceh sampai seluruh dunia tiada yang tidak mengenal nama kue/adonan yang satu ini,karena sudah menjadi tradisi turun temurun dan rahasia umum di Aceh bahwa yang namanya Timphan setiap ibu-ibu atau wanita di Aceh bisa membuatnya.
Timphan yang merupakan makanan lembek berbalut daun pisang muda ini yang paling terkenal adalah Timphan rasa srikaya. Sebelum menjelang lebaran bisanya ibu-ibu sudah menyiapkan daun pisang muda baik memetik di kebun atau beli dipasar. Saking terkenalnya Timphan ini di Aceh, sehingga banyak ungkapan/pribahasa dengan kata Timphan diantaranya yaitu “Uroe goet buluen goet Timphan ma peugoet beumeuteme rasa” ( Hari baik bulan baik Timphan ibu buat harus dapat kurasakan).

2. Gulai Plik U
Gulai Plik U merupakan salah satu jenis masakan yang terkenal di Aceh. Aroma dan rasanya sangat menggugah selera setiap orang yang mencicipinya. Bahan dasar yang digunakan untuk membuat gulai Plik U ini adalah dari Kelapa yang telah dibusukkan dan kemudian dijemur hingga berwarna kecokelatan. Di samping itu, masih banyak bumbu-bumbu dan sayur-sayuran yang merupakan pelengkap gulai Plik U. Plik U dapat ditemui di seluruh penjuru Aceh.
Setiap daerah di Aceh memiliki cara yang berbeda dalam memasak gulai Plik U, begitu juga dengan jenis sayur-sayuran yang digunakan. Akan tetapi, kebanyakan orang Aceh Besar memilih daun Melinjo, buah Melinjo muda, Nangka muda, Pepaya muda, daun Pakis, Kacang Panjang, Jantung Pisang dan daun Jeruk. Selain itu, berbagai macam bumbu pelezat juga digunakan, seperti: cabe rawit, bawang putih, bawang merah, jahe, ketumbar, dll. Kemudian, Bumbu-bumbu tersebut digiling halus dan dimasukkan ke dalam wajan. Selanjutnya, sayur-sayuran yang telah dirajang juga dimasukkan ke dalam wajan, kemudian ditambah Santan dan Plik U serta Garam. Orang Aceh Besar juga menambahkan Siput sebagai pelengkap dan pelezat. Kuah Plik U ini dimasak sekitar dimasak sekitar 15 menit di atas api sedang.

3. Bhoi
Kue Bhoi adalah penganan khas Aceh Besar yang dikenal luas oleh masyarakat Aceh. Bentuk kue ini sangat bervariasi, seperti; bentuk ikan, bintang, bunga, dan lain-lain. Kue Bhoi ini dapat menjadikan salah satu buah tangan ketika akan berkunjung ke sanak saudara atau tetangga yang mengadakan hajatan atau pesta, seperti sunatan dan kelahiran.
Kue Bhoi juga dijadikan sebagai salah satu isi dari bingkisan seserahan yang dibawa oleh calon pengantin pria untuk calon pengantin perempuan pada saat acara pernikahan. Kue Bhoi sendiri biasanya diperoleh di pasar-pasar tradisional ataupun dipesan langsung pada pembuatnya. Proses pembuatan kue Bhoi ini pun tergolong sedikit rumit. Pasalnya, tidak semua orang bisa membuat kuliner ini dan dibutuhkan kesabaran serta keuletan.

4. Keukarah
Kue Keukarah ini merupakan kue tradisional Aceh, bentuknya unik seperti sarang burung, dengan rasanya yang manis dan garing, cocok menjadi oleh-oleh jika berkunjung kedaerah ini.  Alamat Lokasi : Sentra Produksi: Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Dapat dibeli dipusat pertokoan Kota Jantho. Cara Menuju Lokasi : Bisa menggunakan kendaraan umum. Kue Keukarah dibuat dari tepung beras dan di masak dengan cara digoreng. Kue ini biasanya juga menjadi antaran seserahan bagi mempelai yang menikah.

5. Ikan Masam keueng
Ikan Masam Keueng adalah masakan Aceh dengan kuah yang mempunyai rasa asam dan pedas. Alamat Lokasi : Dapat dibeli di rumah makan ataupun restoran didaerah ini, karena setiap rumah makan menyajikan menu masakan ini. Cara Menuju Lokasi : Bisa menggunakan kendaraan umum, Ikan asam keueng adalah salah satu masakan Aceh dengan rasa asam dan pedas, rasa asam karena memakai belimbing wuluh, yaitu buah yang biasanya dipakai untuk memasak lauk-pauk.

Minggu, 11 Mei 2014

Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan ( Rumah limas )


umah Adat Provinsi Sumatera Selatan ( Rumah limas )
Rumah limas
umah Adat Provinsi Sumatera Selatan ( Rumah limas )



 Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan ( Rumah limas )


Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan ( Rumah limas )

#Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan  #Rumah limas

Foto : dari berbagai sumber
Posting Lainnya:
Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan
Rumah Adat Provinsi Jambi
Rumah Adat Provinsi Riau
Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat
Rumah Provinsi Papua



Rumah Adat Provinsi Jambi ( Rumah Panjang )






Rumah Adat Provinsi Jambi Rumah Panjang




 Rumah Adat Provinsi Jambi Rumah Panjang


 #Rumah Adat Provinsi Jambi #Rumah Panjang

Foto : dari berbagai sumber
Posting Lainnya:
Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan
Rumah Adat Provinsi Jambi
Rumah Adat Provinsi Riau
Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat
Rumah Provinsi Papua

Rumah Adat Provinsi Riau ( Rumah melayu selaso jatuh kembar )


Rumah Adat Provinsi Riau ( Rumah melayu selaso jatuh kembar )
Rumah melayu selaso jatuh kembar


Rumah melayu selaso jatuh kembar

 


 Rumah Adat Provinsi Riau ( Rumah melayu selaso jatuh kembar )

       .

#Rumah Adat Provinsi Riau  #Rumah melayu selaso jatuh kembar

Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat ( Rumah Gadang )


Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat
 Rumah Gadang
Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat




Foto : dari berbagai sumber

Rumah Adat Provinsi Sumatera Utara ( Rumah Bolon )


Rumah Adat Provinsi Sumatera Utara
Rumah Adat Bolon


Suku Batak merupakan sebuah suku di Sumatera Utara. Suku ini memiliki rumah adat yang bernama Rumah Bolon. Bila diartikan bolon adalah besar, artinya rumah bolon adalah rumah besar karena memang ukurannya yang cukup besar. Rumah Bolon merupakan hasil karya arsitektur kuno Simalungun. 

Rumah adat ini sekaligus menjadi simbol status sosial masyarakat Batak yang tinggal di Sumatera Utara. Dulu rumah adat ini ditinggali orang para raja di Sumatera Utara. Ada 13 kerajaan yang bergantian menempati rumah Bolon, yaitu Tuan Ranjinman, Tuan Nagaraja, Tuan Batiran, Tuan Bakkaraja, Tuan Baringin, Tuan Bonabatu, Tuan Rajaulan, Tuan Atian, Tuan Hormabulan, Tuan Raondop, Tuan Rahalim, Tuan Karel Tanjung, dan Tuan Mogang.

Bahan-bahan bangunan Rumah Bolon terdiri dari kayu dengan tiang-tiang yang besar dan kokoh. Dinding dari papan atau tepas, lantai juga dari papan sedangkan atap dari ijuk atau daun rumbiah. Rumah adat ini tidak menggunakan paku, tapi diikat kuat dengan tali. Rumah Bolon memiliki kolong (bagian bawah rumah) yang tingginya sekitar dua meter. Kolong tersebut biasanya dipergunakan untuk memelihara hewan, seperti babi, kerbau, ayam, dan sebagainya.


 Rumah Adat Provinsi Sumatera Utara

Untuk memasuki rumah Bolon harus menunduk karena pintunya agak pendek dan berukuran kecil, kurang dari satu meter. Ini menandakan bahwa seseorang harus menghormati tuan rumah dengan cara menunduk saat memasukinya, sibaba ni aporit, yang artinya menghormati pemilik rumah. Pintu masuk rumah adat ini, dahulunya memiliki dua macam daun pintu yaitu daun pintu yang horizontal dan vertikal. Tetapi sekarang daun pintu yang horizontal tak dipakai lagi. 


Ruangan dalam rumah adat merupakan ruangan terbuka tanpa kamar-kamar. Meskipun begitu, bukan berarti tidak ada pembagian ruangan. Dalam rumah adat ini pembagian ruangan dibatasi oleh adat mereka yang kuat Pada bagian depan rumah Bolon, tepatnya di atas pintu terdapat gorga, sebuah lukisan berwarna merah, hitam, dan putih. Biasanya terdapat lukisan hewan seperti cicak, ular ataupun kerbau. 

Dua hewan yang menjadi dekorasi rumah Bolon memiliki makna yang dalam. Pada gorga yang dilukis gambar hewan cicak bermakna, orang batak mampu bertahan hidup di manapun meski dia merantau ke tempat yang jauh sekalipun. Hal ini karena orang batak memiliki rasa persaudaraan yang sangat kuat dan tidak terputus antara sesama sukunya. 

Sedangkan gambar kerbau bermakna sebagai ucapan terima kasih atas bantuan kerbau telah membantu manusia dalam pekerjaan ladang masyarakat. Keindahan rumah Bolon masih terus berlanjut. Atap yang menjadi pelindung rumah memiliki ciri khas yang unik. Dua ujung lancip di depan dan di belakang. Namun ujung pada bagian belakang lebih panjang agar keturunan dari yang memiliki rumah lebih sukses nantinya. Adapun suku Batak sendiri terdiri dari enam puak, yaitu Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing. Setiap puak memiliki rumah adat dengan ciri khas masing-masing. Bahkan penamaannya selalu disertai dengan puak. Misalnya rumah adat batak toba sering disebut rumah bolon Toba. Begitu pula dengan lainnya. Tetapi, pada dasarnya adalah sama karena memiliki ornamen dan arsitektur yang sama.

Pertama adalah Rumah Bolon Toba. 
Berdasarkan bentuknya rumah dibagi kedalam 2 bagian, yaitu Rumah Bolon dan Ruma Jabu. Rumah Bolon Toba yang sering dijumpai biasanya cukup besar, sehingga banyak dimiliki oleh orang yang mampu saja. Bentuknya persegi panjang dan dapat menampung lima sampai enam keluarga.

Sementara Rumah Jabu merupakah rumah yang sederhana. Hanya mampu menampung satu keluarga, tidak terdapat hiasan-hiasan maupun ukiran-ukiran dengan ukuran yang jauh lebih kecil dari Rumah Bolon. Namun dengan ciri-ciri arsitektur yang sama. 

Kedua adalah rumah adat Simalungun atau Rumah Bolon Simalungun. 
Memiliki kemiripan dan kesamaan dengan Rumah Bolon Toba, baik dari segi bentuk, arsitektur, nama, dan juga ornamen-ornamen hiasannya. Ciri khas utamanya terdapat di bagian bawah atau kaki bangunan, selalu berupa susunan kayu yang masih bulat-bulat atau gelondongan. Kayu-kayu tersebut menyilang dari sudut ke sudut. Ciri khas lainnya adalah bentuk atap di mana pada anjungan diberi limasan berbentuk kepala kerbau lengkap dengan tanduknya. 

Ketiga adalah Rumah Bolon Karo. 
Disebut juga sebagai Siwaluh Jabu, panjangnya bisa mencapai 13 meter dengan lebar mencapai 10 meter. Biasanya ditempati oleh empat hingga delapan keluarga, jumlah keluarga harus selalu genap. Salah satu keunikannya yaitu atap rumah dibangun bertingkat-tingkat cukup tinggi dan mampu bertahan hingga usia ratusan tahun. 

Keempat Rumah Bolon Mandailing, disebut sebagai Bagas Godang sebagai kediaman para raja. 
Terletak di sebuah komplek yang sangat luas dan selalu didampingi dengan Sopo Godang sebagai balai sidang adat. Bangunannya mempergunakan tiang-tiang besar yang berjumlah ganjil, sebagaimana juga jumlah anak tangganya. 

Kelima adalah Rumah Bolon Pakpak. 
Ciri khas Rumah Adat Pakpak terletak pada bagian atapnya yang melengkung. Mempunyai satu bagian atap kecil dibagian paling atas. Sayangnya rumah adat ini kini semakin sulit ditemui karena kurang dilestarikan. Bentuk bangunan yang masih utuh bisa ditemukan di Sidikalang, Dairi, dan Pakpak Barat. 

Keenam adalah Rumah Bolon Angkola. 
Dikenal juga sebagai Bagas Godang, yang saat ini masih banyak bisa dilihat.


#Rumah Adat Provinsi Sumatera Utara  #Rumah Bolon

Senjata Tradisional Aceh adalah Rencong (Reuncong)


Senjata Tradisional Aceh adalah Rencong
 Rencong
 Senjata Tradisional Aceh adalah Rencong


Setiap daerah di Indonesia memiliki senjata khas atau senjata tradisional, nah berikut ini adalah senjata Rencong.

Senjata Tradisional Aceh adalah Rencong (Reuncong)

Daerah Provinsi Istimewa Aceh memiliki Senjata Tradisional yaitu Rencong (reuncong).  Bentuk senjata tradisional Rencong berbentuk kalimat Bismillah, gagangnya yang melekuk kemudian menebal pada sikunya merupakan aksara Arab Ba, bujuran gagangnya merupaka aksara Sin, bentuk lancip yang menurun kebawah pada pangkal besi dekat dengan gagangnya merupakan aksara Mim, lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya merupakan aksara Lam, ujung yang meruncing dengan dataran sebelah atas mendatar dan bagian bawah yang sedikit keatas merupakan aksara Ha. Rangkain dari aksara Ba, Sin, Lam, dan Ha itulah yang mewujudkan kalimat Bismillah. 


Pandai besi yang pertama kali membuat rencong, selain pandai maqrifat besi juga memiliki ilmu kaligrafi yang tinggi. Oleh karena itu , rencong tidak digunakan untuk hal-hal kecil yang tidak penting, apalagi untuk berbuat keji, tetapi rencong hanya digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh dan berperang dijalan Allah.
Senjata Tradisional Rencong memiliki kemiripan rupa dengan keris. Panjang mata pisau rencong dapat bervariasi dari 10 cm sampai 50 cm. Mata pisau tersebut dapat berlengkung seperti keris, namun dalam banyak rencong, dapat juga lurus seperti pedang. Rencong dimasukkan ke dalam sarung belati yang terbuat dari kayu, gading, tanduk, atau terkadang logam perak atau emas. Dalam pembawaan, rencong diselipkan di antara sabuk di depan perut pemakai. Rencong memiliki tingkatan; untuk raja atau sultan biasanya sarungnya terbuat dari gading dan mata pisaunya dari emas dan berukirkan sekutip ayat suci dari Alquran agama Islam.

Sedangkan Rencong-rencong lainnya biasanya terbuat dari tanduk kerbau ataupun kayu sebagai sarungnya, dan kuningan atau besi putih sebagai belatinya. Seperti kepercayaan keris dalam masyarakat Jawa, masyarakat tradisional Aceh menghubungkan kekuatan mistik dengan senjata rencong. Rencong masih digunakan dan dipakai sebagai atribut busana dalam upacara tradisional Aceh. Masyarakat Aceh mempercayai bahwa bentuk dari rencong mewakili simbol dari basmalah dari kepercayaan agama Islam. Rencong begitu populer di masyarakat Aceh sehingga Aceh juga dikenal dengan sebutan "Tanah Rencong". Selain rencong, bangsa Aceh juga memiliki beberapa senjata khas lainnya, seperti siwah, geuliwang dan peudeueng.

Foto dan Berita dari berbagai sumber.
 #Senjata Tradisional Aceh  #Rencong  #Reuncong

Budaya Betawi

Daerah provinsi Jakarta memiliki aneka Suku dan adat istiadat salah satunya adalah Suku Betawi yang merupakan suku asli daerah Jakarta. Suku Betawi sendiri terdiri dari beberapa etnis suku bangsa yang bergabung sehingga membentuk kebudayaan sendiri yaitu Budaya Betawi.

Suku Betawi sendiri berasal dari percampuran antar etnis dan bangsa dimasa lalu. Secara biologis sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran dari aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Kelompok etnis Betawi ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Bali, Sumbawa, Sunda, Jawa, Arab, Ambon, Melayu dan Tionghoa.

Dengan keragaman etnis yang ada di Betawi, maka warna dan corak setiap etnis dapat terlihat dalam setiap perayaan etnis Betawi.  Contohnya seperti budaya penyalaan petasan, Lenong, Cokek, hingga pakaian pernikahan adat Betawi yang didominasi warna merah, itu semua dipengaruhi kuat oleh budaya Tionghoa. Kemudian etnis Arab sangat mempengaruhi musik gambus dalam warna musik Marawis dan Tanjidor. Tanjidor sendiri adalah perpaduan budaya Eropa, Cina, Melayu dan Arab. 

Salah satu daerah yang memiliki Musik khas adalah Kampung Tugu terkenal dengan budaya Musik Keroncong yang bersal dari Portugis. Salah satu musik khas dari kesenian Betawi yang paling terkenal adalah Gambang Kromong, dimana dalam setiap kesempatan perihal Betawi, Gambang Kromong selalu menjadi tempat yang paling utama. 

Berikut ini daftar budaya Betawi antara lain :

- Lenong
- Ondel-ondel
- Tari Japin
- Tari Cokek Betawi
- Tari Topeng betawi
- Tari Lenggang Nyai
- Gambang Kromong 

Sumber: Berita dari berbagai Media


Rumah Adat Daerah Istimewa Aceh


Rumah Adat Daerah Istimewa Aceh
Rumoh Aceh

 Rumah Adat atau  Rumah tradisonal suku Aceh dinamakan Rumoh Aceh.




Tipe Rumah Adat Daerah Istimewa Aceh ini memiliki tipe  rumah panggung, Rumah Adat Daerah Istimewa Aceh memiliki  3 bagian utama dan 1 bagian tambahan.

Tiga bagian utama dari rumah Aceh yaitu
-  Seuramoë keuë (serambi depan)
-  Seuramoë teungoh (serambi tengah
-  Seuramoë likôt (serambi belakang)

Sedangkan 1 bagian tambahannya yaitu Rumoh dapu (rumah dapur).



.Rumah Adat Daerah Istimewa Aceh






#Rumoh Aceh.   #Rumah Adat Daerah Istimewa Aceh

Foto : dari berbagai sumber
Posting Lainnya:
Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan
Rumah Adat Provinsi Jambi
Rumah Adat Provinsi Riau
Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat
Rumah Provinsi Papua


10 Tempat Pusat Budaya dan Kesenian di Jakarta


Kota Jakarta sebagai Ibukota negara Republik Indonesia selalu menjadi daya tarik dan kota harapan bagi semua orang. Sebagai sebuah kota besar tentunya menjadi tempat berkumpulnya berbagai masyarakat dari berbagai suku dan daerah di Indonesia. Berbagai kehidupan seni dan budaya dapat dijumpai di Ibu kota tercinta ini, Kota Jakarta tentunya memiliki tempat tempat yang menjadi pusat kebudayaan dan kesenian untuk menyalurkan aspirasi Budaya dan Kesenian dari berbagai daerah yang ada.

Berikut ini 10 tempat pusat Budaya dan Kesenian yang ada di Ibukota Jakarta yang wajib anda kunjungi jika ingin menyaksikan pagelaran Budaya.

10 Tempat Pusat Budaya dan Kesenian di Jakarta

1. Taman Mini Indonesia Indah ( TMII )
Lokasi di Jalan Taman Mini Jakarta Timur.
 http://www.tamanmini.com

2. Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki ( TIM )
Lokasi Jalan Cikini Raya 73 Jakarta Pusat.
 http://www.tamanismailmarzuki.co.id

3. Galeri Nasional Indonesia
Lokasi Jalan Medan Merdeka Timur No.14, Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10110, Indonesia
Telepon: +62 21 3813021
 http://galeri-nasional.or.id

4. Gedung Kesenian Jakarta
Lokasi Jalan Jl. Gedung Kesenian 1 Pasar Baru Sawah Besar Jakarta Pusat DKI Jakarta, 10110, Indonesia  +62 21 3808283
 http://www.gedungkesenianjakarta.co.id

5. Kampung Budaya Setu Babakan
Lokasi Jalan Moch Kahfi II, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan

6. Bentara Budaya Jakarta
Lokasi Jalan Palmerah Selatan No 17 Jakarta 10270
Telepon :+62 21 5483008 ext. 7910
http://www.bentarabudaya.com

7. Komunitas Salihara
Lokasi Jalan. Salihara No. 16 Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Indonesia
Telepon:+62 21 7891202
 http://salihara.org

8. Wayang Orang Bharata
Lokasi Jalan Kalilio No 15 Senen, jakarta Pusat.

9. Pasar Seni Ancol Jakarta.
Lokasi PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk Ecovention Building - Eco Park Jalan Lodan Timur No 7 Taman Impian Jaya Anco, Jakarta Utara.
Telp.: (+62-21) 645 3456, 645 4567
Fax. : (+62-21) 647 10502
Email : ancol@ancol.com
http://www.ancol.com

10. Aula Simfonia Jakarta
Lokasi Jalan. Industri Raya Blok B 14 Kavling 1 Kemayoran Kemayoran Jakarta Pusat DKI Jakarta, Indonesia
Telepon:+62 21 65867820
http://www.aulasimfoniajakarta.com



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mobi Info

...

Lazada Promo