Google Searching

Info

Sabtu, 24 Oktober 2015

Jejak Kaki Raksasa di Tapak Tuan Aceh


Jejak Kaki Raksasa di Tapak Tuan Aceh
 Jejak Kaki Raksasa di Tapak Tuan Aceh

Jejak Kaki Raksasa di Tapak Tuan Aceh terletak di antara batu karang, Penampakan telapak kaki ukuran 6 X 2,5  meter itu menghadap ke laut luas. Di dalam telapak kaki raksasa dipenuhi air berwarna kuning keemasan. Tak jauh dari sana, bukit hijau menjulang dan sebuah kain putih sebagai penanda terpasang beberapa meter dari tapak.
Menurut legenda Aceh selatan tapak kaki raksasa itu adalah tapak kaki Tuan Tapa, seorang tokoh dalam cerita legenda. Keberadaan tapak raksasa yang terletak di kaki Gunung  Lampu, Tapak Tuan, saat ini menjadi daya tarik wisatawan baik dari dalam negri maupun luar negri.

Jalan yang harus dilalui ntuk berkunjung ke sana memang tidak mudah. Para pengunjung harus melewati batu karang beragam ukuran. Dipermudah dengan rambu petunjuk berupa garis putih yang dicat di setiap batu. Tinggal mengikuti arah rambu tersebut,anda pasti menemukan tapak raksasa yang siap memanjakan mata.

Cerita legenda tapak Tuan Tapa ini menjadi cikal bakal nama ibu kota Aceh Selatan, yaitu Tapaktuan. Sebuah kota terletak sekitar 440 kilometer dari ibukota provinsi Banda Aceh.

Legenda Tapak Tuan menjadi cerita rakyat turun temurun dan dipercaya masyarakat disana, meski kini tapak tersebut tidak lagi alami, tapi lokasi tersebut masih memikat hati para wisatawan.

"Menurut cerita di sini dulu memang ada jejak tapak ini. Biar agar tidak hilang, makanya sekarang sudah dibuat begini," kata seorang pemandu, Khairil, kepada detikcom, Sabtu (24/10/2015).

Jejak Kaki Raksasa di Tapak Tuan Aceh

Pengelola objek wisata Tapak Tuan Tapa, Chaidir Karim, mengisahkan, dulu di sana hidup seorang pertapa sakti bertubuh raksasa yang sangat taat kepada Allah. Syech Tuan Tapa, namanya. Suatu hari, ada dua naga dari negeri Cina menemukan seorang bayi terapung ditengah laut. Mereka kemudian menyelamatkan bayi itu dan merawatnya hingga tumbuh dewasa.

Beberapa tahun kemudian, kedua orangtua bayi yang menjadi raja dan permaisuri di Kerajaan Asralanoka mengetahui keberadaan putri mereka. Raja meminta kembali buah hatinya pada kedua naga. Permintaan itu ditolak. Tanpa pikir panjang, raja membawa lari putrinya naik ke dalam kapal. 
"Kedua naga marah dan mengejar raja hingga terjadi pertempuran ditengah laut. Hal itu menyebabkan semedi Tuan Tapa terusik," kata Chaidir.

Tuan Tapa lalu keluar dari gunung tempat ia bertapa dan melangkah ke sebuah gunung. Saat berdiri dipuncak gunung, Tuan Tapa hendak melontarkan tubuh ke arena pertempuran. "Jejak kaki saat dia berdiri itulah yang membekas di sini," ungkapnya.
Niat Tuan Tapa untuk menyelamatkan bayi yang telah menjadi seorang putri. Ternyata, maksud baik Tuan Tapa membuat kedua naga marah besar sehingga terjadi pertempuran. Tuan Tapa berhasil membunuh kedua naga dengan menggunakan tongkat.

Singkat cerita, pertarungan itu dimenangkan oleh Tuan Tapa. Sang putri pun kembali ke pelukan raja dan permaisuri. Tapi keduanya tidak kembali lagi ke kerajaan dan memilih menetap di Aceh.

"Keberadaan mereka di tanah Aceh diyakini sebagai cikal bakal masyarakat Tapaktuan," jelasnya.

Jejak Kaki Raksasa di Tapak Tuan Aceh

Tak lama berselang setelah kejadian itu, Syech Tuan Tapa menghilang disebuah lokasi. Oleh masyarakat Tapaktuan, lokasi tersebut diyakini sebagai makam Tuan Tapa. Letaknya di depan Masjid Tuo di Kelurahan Padang, Kecamatan Tapaktuan. Hingga kini, makam tersebut masih ramai dikunjungi.

Selain tapak raksasa, tak jauh dari sana juga terdapat batu di tengah laut yang diyakini sebagai kopiah Tuan Tapa yang kini sudah menjadi batu. Kopiah itu terlepas saat pertarungan terjadi. tongkat yang sudah menjadi batu pun ada di sana.

Berjarak lima kilometer dari lokasi tapak, ada karang berbentuk hati di Desa Batu Itam dan sisik naga di Desa Batu Merah. Menurut cerita, bekas potongan tubuh naga jantan yang kalah bertarung. Ada juga karang berbentuk layar kapal di Pantai Batu Berlayar, Desa Damar Tutong, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, yang terletak sekitar 20 kilometer dari tapak kaki raksasa. Konon karang itu sisa kapal raja dan permaisuri Kerajaan Asralanoka yang hancur ketika pertempuran.

"Sekarang banyak wisatawan yang berkunjung ke sini," kata Khairil.

Penasaran dengan telapak raksasa? Yuk kunjungi kabupaten berjuluk Kota Naga ini.


Sumber:  http://news.detik.com
Sabtu 24 Oct 2015, 11:47 WIB
Agus Setyadi - detikNews


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mobi Info

...

Lazada Promo