Google Searching

Info

Minggu, 22 Juli 2018

Cara Budidaya Jamur Media Bonggol Jagung


Cara Budidaya Jamur Media Bonggol Jagung

Cara Budidaya Jamur Dengan Media Bonggol Jagung atau Jenggel Jagung

Tanaman Jagung banyak dibudidayakan oleh para petani. Biji jagung yang sudah dipipil atau diambil bijinya maka akan menyisakan lingah berupa bonggol jagung yang biasanya hanya menjadi tumpukan sampah yang tidak terpakai.

Biasannya bonggol/janggel jagung akan langsung dibuang setelah di ambil bijib jagungnnya padahal dari bonggol jagung ini, bila kita kratif dapat kita manfaatkan menjadi media tanam Jamur.
Bonggol jagung memiliki kandungan yang dapat menjadi bahan utama sebagai media tanam jamur. Bahkan anda tidak perlu menambahkan bibit jamur, sebab jamur dapat tumbuh secara alami pada media bonggol jagung. Jenis jamur yang di hasikan dari bonggol jagung ini bukan katgori jamur racun dan bisa untuk di konsumsi. 

Cara Budidaya Jamur Dengan Media Bonggol Jagung atau Jenggel Jagung

 Cara Budidaya Jamur Media Bonggol Jagung


Cara budi daya yang digunakan tidak jauh berbeda dengan pembuatan budidaya pada Jamur tiram , Jamur merang, Jamur Kuping dan sebagainnya hanya perbedaannya terletak pada media yang di gunakan adalah bonggol atau jenggel atau tongkol jagung. Kelebihan dari budidaya menggunakan tongkol jagung ini tidak mengunakan benih jamur dalam budidayannya hanya benih alami yang tumbuh pada jamur jagung tersebut, prosesnnya sendiri tidak cukup rumit tidak ada system penguapan seperti yang di lakukan pada pembuatan jamur tiram hanya perlu penyiraman secara teratur agar suhu yang di hasilkan selalu stabil dan bisa menghasilkan bibit –bibit jamur yang berkualitas.

Bahan dan alat yang di gunakan :
A. Bonggol jagung
B. Ragi 7 Butir
C. Bekatul 5 Kg
D. Urea 1 Kg
E. Karung Goni
F. Terpal Plastik
G. Papan




Cara pembuatan Budidaya Jamur Dengan Media Bonggol Jagung
- Siapkan tempat untuk menumpuk bonggol jagung tersebut dengan membuat kotak dari papan yang telah di sediakan tadi dengan ukuran 5 m x 1 m.

- Setelah tempat sudah siap untuk digunakan tumpuk bonggol jagung dengan tinggi  kurang lebih 15 cm, sebelum dilakukan penumpukan bonggol,  letakan karung goni pada alas tempat penumpukan dengan karung goni. Mengapa menggunakan karung goni? jamur adalah jenis tanaman yang menyukai lokasi yang lembab dan panas, nah karung goni mempunyai bahan yang panas dan daya serap terhadap air cukup lama. ratakan timbunan bonggol jagung setinggi 15 cm secara merata.

- Campurkan bahan-bahan yang telah kita siapkan tadi yaitu ragi, bekatul dan urea menjadi satu dan aduk rata. Setelah proses pencampuran selesai dilakukan, taburkan secara merata dan secukupnnya, jangan dihabiskan cukup setengah dari takaran yang sudah disiapkan tadi.

- Setelah proses penaburan dari bahan ragi, bekatul dan urea selesai dilakukan tutup kembali dengan menggunakan bonggol jagung setinggi kurang lebih 15 cm kemudian taburkan kembali campuran ragi, bekatul dan urea tadi sampai merata dan habiskan semua campuran tersebut setelah semua selesai di lakukan siram dengan air hingga basah kemudian tutup rapat dengan menggunakan terpal.

Cara Budidaya Jamur Dengan Media Bonggol Jagung atau Jenggel Jagung

Perawatan dan Pemeliharaan Budidaya Jamur Dengan Media Bonggol Jagung

Kita hanya bisa menunggu hingga beberapa hari kedepan untuk melihat keberhasilan apakan jamur dapat muncul atau tidak.

Saat anda mulai melihat misellium jamur tumbuh maka segera buka penutup terpal. Maka selanjutnya anda bisa melakukan tahapan perawatan dan pemeliharaan. Perawatan tidak berlangsung dengan intensif bahkan cenderung lebih mudah. Anda hanya cukup melakukan hal berikut ini :

    - Penyiraman dilakukan untuk menjaga kelembaban media.
    - Apalagi saat jamur mulai tumbuh maka kelembaban harus benar-benar dijaga.
    - Penyiraman dilakukan dengan menggunakan air bersih serta dicampur  dengan urea.
    - Siramkam setiap 2-3 hari sekali, atau saat media mulai terlihat kering.
    - Lakukan penyiraman di pagi ataupun sore hari.
    - Hal yang paling harus diperhatikan adalah pencahayaan.
    - Pastikan bahwa lokasi mendapat cahaya matahari cukup, namun terhindar dari hujan.
   
Untuk menjaga kelembapan media tersebut lakukan penyiraman secara rutin dan lokasi penempatan harus selalu terkena sinar matahari tetapi terhindar dari hujan, proses penyiraman bisa dicampur menggunakan pupuk urea dan lokasi pembibitan jamur jagung ini jangan di atas lantai atau kramik lokasi yang tepat adalah diatas tanah.

Pemanenan Budidaya Jamur Dengan Media Bonggol Jagung
Jenis jamur ini dapat dipanen ketika sudah berumur kurang labih 14 hari dari terahir proses pembuatan tersebut, panen bisa di lakukan pagi atau sore hari.  Kriteria jamur yang sudah dapat dipanen adalah yang telah mencapai ukuran maksimal dengan bentuk seperti jamur kedelai,berbentuk bulat dan mempunyai tongkat.

Siklus budidya yang berlangsung dengan cepat, maka anda harus mengulang siklus dari awal dengan menggunakam bonggol jagung yang sama. Saat bonggol telah hancur, maka anda harus menggantinya dengan bonggol yang baru.


Budidaya Jamur dengan Bonggol Jagung merupakan paling mudah. Budidaya ini dapat menjadi peluang bisnis yang amat menjanjikan dan juga potensinya masih sangat besar.

Semoga ilmu ini bisa bermanfaat dan selamat mencobannya, sukses selalu!
Dari berbagai sumber di internet.

Lihat posting lainnya:





 


.. Mobile ads:


Selasa, 17 Juli 2018

Jembatan Kota Intan di Kota Tua Jakarta


Jembatan Kota Intan Kota Tua Jakarta
Jembatan Kota Intan (foto: www.flickr.com)
Jembatan Kota Intan Kota Tua Jakarta

Jembatan Kota Intan berada di kawasan  Kota Tua Jakarta yang dikenal dengan old city jakarta. Jembatan Kota Intan adalah jembatan tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun 1628 oleh pemerintah Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC.

Jembatan Kota Intan kini terletak di Kali Besar kawasan Kota Tua wilayah Jakarta Barat dan berada di bawah pengelolaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Kota Tua Jakarta juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), Kawasan ini adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta, Indonesia.  Luas wilayah khusus ini memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka). Dijuluki "Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" pada abad ke-16 oleh pelayar Eropa, Jakarta Lama dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah. 
                                                                                                   
Nama Jembatan Kota Intan telah berganti-ganti nama sesuai pergantian zaman. Pada mulanya jembatan ini disebut Engelse Burg atau "Jembatan Inggris" yang dibangun pada tahun 1628.

Kenapa dinamakan Jembatan Inggris ?

Dinamakan Jembatan Inggris, karena pada saat jembatan itu dibangun terdapat kubu pasukan Inggris di sebelah Timur jembatan tersebut. Pada tahun 1628-1629 jembatan ini pernah rusak karena penyerangan pasukan Banten dan Mataram. Kemudian dibangun kembali oleh VOC Belanda pada tahun 1630 dan berganti nama menjadi "Jembatan Pasar Ayam" atau Hoenderpasarburg, karena di seberang jembatan tersebut terdapat pasar ayam,bagi penduduk Batavia.


Jembatan Kota Intan 1900-1940

Jembatan Kota Intan 1900-1940 sumber wikipedia

Dalam perjalanannya tahun 1655 jembatan ini pernah diperbaiki dari batu setelah jembatan yang lama yang terbuat dari kayu hancur pada waktu banjir dan diberi nama Het Middelpunt Burg atau "Jembatan Pusat". Bentuk dan gayanya tidak berubah hingga saat ini. 

Pada masa kejayaan Ratu Juliana, jembatan ini pernah berganti nama menjadi Jembatan Ratu Juliana, karena pernah diperbaiki oleh sang ratu.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia jembatan ini berganti nama menjadi Jembatan Kota Intan sesuai dengan nama lokasi setempat, dimana pada masa awal pembangunannya terletak persis di ujung kubu/bastion Diamond dari Kastil Batavia.

Jembatan Kota Intan ini merupakan jembatan gantung, seperti kebanyakan jembatan-jembatan besar lain yang juga digantung di negeri asalnya VOC, yaitu Belanda.

Dari atas jembatan ini kita dapat melihat kantor pabean, ke arah Utara. Jembatan ini masih ada sampai sekarang meski kayu hutannya sudah diganti dengan baja. Pada abad ke17 kapal-kapal masih dapat berlayar lebih jauh ke arah hulu Sungai Ciliwung dengan cara mengangkat tengah-tengah jembatan itu ke atas. Akan tetapi tidak diketahui bahwa jembatan tersebut pernah mempunyai fungsi sebagai batang pajak seperti yang disebut di daerah Luar Batang. 

Situs Gedung Candra Naya di Jakarta
Menara Syah Bandar Jakarta
Museum Bahari Jakarta
Serba Serbi Kota Jakarta,
Taman RPTRA Kali Jodo Jakarta
Museum Bank Indonesia di Kota Tua Jakarta,
 Situs Gedung Candra Naya di Jakarta

Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Jembatan_Kota_Intan
http://jakarta.panduanwisata.id/jakarta-barat/melihat-sisi-sejarah-dari-jembatan-kota-intan/


Mobile ads:


Minggu, 08 Juli 2018

Megahnya Pura Besakih di Pulau Bali

Pura Besakih di Pulau Bali
Gambar: http://s8hotel.com
Megahnya Pura Besakih di Pulau Bali

Pulau Bali kaya akan pesona budayanya, salah satunya adalah Pura. Ada banyak pura di Pulau Bali, salah satunya yang terbesar adalah Pura Besakih. Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem Provinsi Bali merupakan tempat Pura Besakih  berada.

Menurut cerita, konon dulu tempat ini sebelum dibangunnya Pura Besakih hanya terdapat kayu-kayuan dalam sebuah  hutan belantara. Sebelum adanya selat Bali ( Segara Rupek ) Pulau Bali dan pulau Jawa dahulu masih menjadi satu dan belum dipisahkan oleh laut, pulau ini bernama Pulau Panjang  atau Pulau Dawa. 
Di suatu tempat di Jawa Timur yaitu di Gunung Rawang (Gunung Raung) ada seorang Yogi atau pertapa yang bernama Resi Markandeya.  Karena ketinggian ilmu bhatinnya ,kesucian rohaninya, serta kecakapan dan kebijaksanaan beliau maka oleh rakyat,beliau diberi julukan Bhatara Giri Rawang.

Awalnya Resi Markandeya bertapa di Gunung Demulung, kemudian pindah ke gunung Hyang (konon gunung Hyang itu adalah DIYENG di Jawa Tengah yang berasal dan kata DI HYANG). Sekian lamanya beliau bertapa di sana, mendapat titah dari Hyang Widhi Wasa agar beliau dan para pengikutnya merabas hutan di pulau Dawasetelah selesai, agar tanah itu dibagi-bagikan kepada para pengikutnya.

Demikianlah kemudian beliau berangkat ke tanah Bali disertai pengikutnya yang pertama yang berjumlah 8000 orang dengan perlengkapan dan peralatan yang diperlukan. Sesampainya ditempat yang dituju,beliau memerintahkan pengikutnya agar mulai merambas hutan. Akan tetapi Saat merabas hutan, banyak para pengiring Sang Yogi Markandeya yang sakit, lalu mati dan ada juga yang mati dimakan binatang buas, karena tidak didahului dengan upacara yadnya (bebanten / sesaji).

Kemudian beliau memerintahkan pengikutnya untuk menghentikan perambasan. Dengan hati yang sedih beliau kemudian mengajak pengikutnya untuk kembali ke Jawa. Beliau kembali ketempat pertapaannya semula untuk mohon petunjuk kepada sang Hyang Widhi.Setelah beberapa lamanya beliau berada dipertapaannya, timbul cita-citanya kembali untuk melanjutkan merambas hutan tersebut. Pada suatu hari yang baik,beliau kembali berangkat ke tanah Bali. Kali ini beliau mengajak pengikutnya yang kedua berjumblah 4000 orang yang berasal dari desa Aga yaitu penduduk yang mendiami lereng Gunung Rawung . Turut dalam rombongan itu para Pandita atau para Rsi. Para pengikutnya membawa perlengkapan beserta alat-alat pertanian dan bibit tanaman untuk ditanam di tempat yang baru.

Setelah tiba di tempat yang dituju, Resi Markandeya segera melakukan tapa yoga semadi bersama-sama para yogi lainnya dan mempersembahkan upakara yadnya, yaitu Dewa Yadnya dan Buta Yadnya. Setelah upacara itu selesai, para pengikutnya disuruh bekerja melanjutkan perabasan hutan tersebut, menebang pohon-pohonan dan lain-lainnya mulai dan selatan ke utara. Karena dipandang sudah cukup banyak hutan yang dirabas, maka berkat asung wara nugraha Hyang Widhi Wasa, Sang Yogi Markandeyamemerintahkan agar perabasan hutan, itu dihentikan dan beliau mulai mengadakan pembagian-pembagian tanah untuk para pengikut-pengikutnya masing-masing dijadikan sawah, tegal dan perumahan.

Megahnya Pura Besakih di Pulau Bali
Megahnya Pura Besakih di Pulau Bali (Gambar:inputbali.com)

Demikianlah pengikut Rsi Markandya yang berasal dari Desa Aga ( penduduk lereng Gunung Rawung Jawa Timur ) menetap di tempat itu sampai sekarang. Ditempat bekas dimulainya perambasan hutan itu oleh Sang Rsi/Yogi Markandya menanam kendi (caratan) berisi air disertai 5 jenis logam yaitu: emas,perak,tembaga,perunggu dan besi yang disebut Panca Datu dan permata Mirahadi ( mirah yang utama ) dengan sitertai sarana upakara selengkapnya dan diperciki Tirta Pangentas ( air suci ). Tempat menanam 5 jenis logam itu diberinama Basuki yang artinya selamat. Kenapa disebut demikian,karena pada kedatangan Rsi Markandya yang ke dua beserta 4000 pengikutnya selamat tidak menemui hambatan atau bencana seperti yang dialami pada saat kedatangan beliau yang pertama. Ditempat itu kemudian didirikan palinggih. Lambat laun di tempat itu kemudian didirikan pura atau khayangan yang diberi nama Pura Basukian. Pura inilah cikal-bakal berdirinya pura –pura yang lain di komplek Pura Besakih.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa pembangunan pura ditempat itu dimulai sejak Isaka 85 atau tahun 163 Masehi. Pembangunan komplek pura di Pura Besakih sifatnya bertahap dan berkelanjutan disertai usaha pemugaran dan perbaikan yang dilakukan secara terus menerus dari masa kemasa. (sumber:babadbali.com, senaya.web.id)

Lihat Posting terkait:
Megahnya Pura Besakih di Pulau Bali
Mobile ads:


Rumah Adat Provinsi Maluku Utara ( Rumah Baileo )


Rumah Adat Provinsi Maluku Utara ( Rumah Baileo )
 Rumah Adat Provinsi Maluku Utara ( Rumah Baileo )

Rumah Adat Provinsi Maluku Utara,Rumah Adat , Rumah Baileo,

Rumah Adat Provinsi Maluku Utara dikenal dengan nama Rumah Baileo.
Rumah adat Baileo ini melambangkan kejamukan agama di Maluku. Ciri khas rumah adat ini adalah ukurannya yang besar sebab rumah adat ini tidak dipakai sebagai tempat tinggal saja melainkan untuk musyawarah dan acara hiburan. Uniknya didalam salah satu ruangan rumah adat ini terdapat ruangan khusus untuk menyimpan benda-benda pusaka suci.

Foto : dari berbagai sumber

Rumah adat lainnya:
Rumah Adat Nusantara 33 Provinsi di Indonesia
Rumah Adat Provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta
Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah (JOGLO)
Rumah Adat Provinsi Jawa Timur (Rumah JOGLO Situbondo) 
Rumah Adat Provinsi Banten (Rumah Badui)  
Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta (Rumah Kebaya)
Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon)
Rumah Adat Provinsi Bali (Rumah Gapura Candi Bentar)
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Rumah Musalaki )
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Barat ( Rumah Istana Sultan Sumbawa )
Rumah Adat Provinsi Bengkulu
Rumah Adat Provinsi Kepulauan Riau
Rumah Adat Provinsi Lampung (Nowou Sesat )
Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung (Rumah Rakit, Rumah Limas)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan (Rumah limas)
Rumah Adat Provinsi Jambi (Rumah Panjang )
Rumah Adat Provinsi Riau (Rumah melayu selaso jatuh kembar)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat (Rumah Gadang)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Utara (Rumah Bolon)
Rumah Adat Daerah Istimewa Aceh
Rumah Adat Provinsi Papua (Rumah Adat Honai)
Rumah Adat Provinsi Papua Barat (Rumah Honai)
Rumah Adat Provinsi Maluku Utara ( Rumah Baileo )   
Rumah Adat Provinsi Maluku ( Rumah Baileo ) 
Rumah Adat Provinsi Gorontalo ( Rumah Dulohupa dan Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Selatan ( Rumah Tongkonan )   
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tengah ( Rumah Tambi )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Utara ( Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tenggara ( Rumah Istana Buton / Malige )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat (Rumah Tongkonan)
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara (Rumah Baloy)   
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur ( Rumah Lamin )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan ( Rumah Banjar Bubungan Tinggi )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Tengah ( Rumah Betang )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Barat ( Rumah Istana Kesultanan Pontianak )




Mobile ads:


Rumah Adat Provinsi Maluku ( Rumah Baileo )


Rumah Adat Provinsi Maluku ( Rumah Baileo )
 Rumah Adat Provinsi Maluku ( Rumah Baileo )

Rumah Adat Provinsi Maluku,Rumah Adat , Rumah Baileo

Rumah Adat Provinsi Maluku dikenal dengan nama Rumah Baileo. Rumah ada Baileot ini melambangkan kejamukan agama di Maluku. Ciri khas rumah adat Baileo ini adalah ukurannya yang besar sebab rumah adat ini tidak dipakai sebagai tempat tinggal saja melainkan untuk musyawarah dan acara hiburan. Uniknya didalam salah satu ruangan rumah adat ini terdapat ruangan khusus untuk menyimpan benda-benda pusaka suci.

Foto : dari berbagai sumber

Rumah adat lainnya:
Rumah Adat Nusantara 33 Provinsi di Indonesia
Rumah Adat Provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta
Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah (JOGLO)
Rumah Adat Provinsi Jawa Timur (Rumah JOGLO Situbondo) 
Rumah Adat Provinsi Banten (Rumah Badui)  
Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta (Rumah Kebaya)
Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon)
Rumah Adat Provinsi Bali (Rumah Gapura Candi Bentar)
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Rumah Musalaki )
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Barat ( Rumah Istana Sultan Sumbawa )
Rumah Adat Provinsi Bengkulu
Rumah Adat Provinsi Kepulauan Riau
Rumah Adat Provinsi Lampung (Nowou Sesat )
Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung (Rumah Rakit, Rumah Limas)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan (Rumah limas)
Rumah Adat Provinsi Jambi (Rumah Panjang )
Rumah Adat Provinsi Riau (Rumah melayu selaso jatuh kembar)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat (Rumah Gadang)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Utara (Rumah Bolon)
Rumah Adat Daerah Istimewa Aceh
Rumah Adat Provinsi Papua (Rumah Adat Honai)
Rumah Adat Provinsi Papua Barat (Rumah Honai)
Rumah Adat Provinsi Maluku Utara ( Rumah Baileo )   
Rumah Adat Provinsi Maluku ( Rumah Baileo ) 
Rumah Adat Provinsi Gorontalo ( Rumah Dulohupa dan Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Selatan ( Rumah Tongkonan )   
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tengah ( Rumah Tambi )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Utara ( Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tenggara ( Rumah Istana Buton / Malige )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat (Rumah Tongkonan)
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara (Rumah Baloy)   
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur ( Rumah Lamin )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan ( Rumah Banjar Bubungan Tinggi )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Tengah ( Rumah Betang )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Barat ( Rumah Istana Kesultanan Pontianak )


Mobile ads:


Rumah Adat Provinsi Gorontalo ( Rumah Dulohupa dan Rumah Pewaris )


Rumah Adat Provinsi Gorontalo ( Rumah Dulohupa dan Rumah Pewaris )
 Rumah Adat Provinsi Gorontalo ( Rumah Dulohupa dan Rumah Pewaris )


Rumah Adat Provinsi Gorontalo,Rumah Adat , Rumah Dulohupa dan Rumah Pewaris.
Rumah Adat Provinsi Gorontalo dinamakan Rumah Dulohupa, Rumah Pewaris.
 Rumah adat dolohupa merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Gorontalo. Ciri khas rumah Rumah Dulohupa ini adalah mempunyai atap yang sangat berseni dengan struktur bangunan menyerupai rumah panggung. Sebagian besar bahan dasar bangunan  Rumah Dulohup ini adalah menggunakan kayu asli.

Foto : dari berbagai sumber

Rumah adat lainnya:
Rumah Adat Nusantara 33 Provinsi di Indonesia
Rumah Adat Provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta
Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah (JOGLO)
Rumah Adat Provinsi Jawa Timur (Rumah JOGLO Situbondo) 
Rumah Adat Provinsi Banten (Rumah Badui)  
Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta (Rumah Kebaya)
Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon)
Rumah Adat Provinsi Bali (Rumah Gapura Candi Bentar)
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Rumah Musalaki )
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Barat ( Rumah Istana Sultan Sumbawa )
Rumah Adat Provinsi Bengkulu
Rumah Adat Provinsi Kepulauan Riau
Rumah Adat Provinsi Lampung (Nowou Sesat )
Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung (Rumah Rakit, Rumah Limas)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan (Rumah limas)
Rumah Adat Provinsi Jambi (Rumah Panjang )
Rumah Adat Provinsi Riau (Rumah melayu selaso jatuh kembar)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat (Rumah Gadang)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Utara (Rumah Bolon)
Rumah Adat Daerah Istimewa Aceh
Rumah Adat Provinsi Papua (Rumah Adat Honai)
Rumah Adat Provinsi Papua Barat (Rumah Honai)
Rumah Adat Provinsi Maluku Utara ( Rumah Baileo )   
Rumah Adat Provinsi Maluku ( Rumah Baileo ) 
Rumah Adat Provinsi Gorontalo ( Rumah Dulohupa dan Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Selatan ( Rumah Tongkonan )   
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tengah ( Rumah Tambi )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Utara ( Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tenggara ( Rumah Istana Buton / Malige )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat (Rumah Tongkonan)
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara (Rumah Baloy)   
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur ( Rumah Lamin )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan ( Rumah Banjar Bubungan Tinggi )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Tengah ( Rumah Betang )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Barat ( Rumah Istana Kesultanan Pontianak )



Mobile ads:


Rumah Adat Provinsi Sulawesi Selatan ( Rumah Tongkonan )


Rumah Adat Provinsi Sulawesi selatan ( Rumah Tongkonan )

Rumah Adat Provinsi Sulawesi selatan (SULSEL)
Rumah Adat : Rumah Tongkonan

Rumah Adat Provinsi Sulawesi Selatan dinamakan Rumah Tongkonan. Ciri khas rumah adat Tongkonan ini adalah mempunyai bentuk yang unik pada atapnya. Atap rumah ini berbentuk seperti perahu. Selain itu terdapat hiasan tanduk kerbau di bagian depan rumahnya.


Rumah Adat Provinsi Sulawesi selatan ( Rumah Tongkonan )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Selatan ( Rumah Tongkonan )

Tongkonan adalah rumah adat masyarakat Toraja. Atapnya melengkung menyerupai perahu, terdiri atas susunan bambu (saat ini sebagian tongkonan menggunakan atap seng). Di bagian depan terdapat deretan tanduk kerbau. Bagian dalam ruangan dijadikan tempat tidur dan dapur. Tongkonan digunakan juga sebagai tempat untuk menyimpan mayat. Tongkonan berasal dari kata tongkon (artinya duduk bersama-sama). Tongkonan dibagi berdasarkan tingkatan atau peran dalam masyarakat (stara sosial Masyarakat Toraja). Di depan tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (banga) saat ini sebagian sudah dicor. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari (disebut pa'bare' allo), yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.

Rumah Adat Provinsi Sulawesi selatan ( Rumah Tongkonan )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi selatan ( Rumah Tongkonan )

Khususnya di Sillanan-Pemanukan (Tallu Lembangna) yang dikenal dengan istilah Ma'duangtondok terdapat tongkonan yaitu Tongkonan Karua (delapan rumah tongkonan) dan Tongkonan A'pa'(empat rumah tongkonan) yang memegang peranan dalam masyarakat sekitar.

Tongkonan karua terdiri dari:

    Tongkonan Pangrapa'(Kabarasan)
    Tongkonan Sangtanete Jioan
    Tongkonan Nosu (To intoi masakka'na)
    Tongkonan Sissarean
    Tongkonan Karampa' Panglawa padang
    Tongkonan Tomentaun
    Tongkonan To'lo'le Jaoan
    Tongkonan To Barana'

Tongkonan A'pa' terdiri dari:

    Tongkonan Peanna Sangka'
    Tongkonan To'induk
    Tongkonan Karorrong
    Tongkonan Tondok Bangla' (Pemanukan)

Banyak rumah adat yang konon dikatakan tongkonan di Sillanan, tetapi menurut masyarakat setempat, bahwa yang dikatakan tongkonan hanya 12 seperti tercatat di atas. Rumah adat yang lain disebut banua pa'rapuan. Yang dikatakan tongkonan di Sillanan adalah rumah adat di mana turunannya memegang peranan dalam masyarakat adat setempat. Keturunan dari tongkonan menggambarkan strata sosial masyarakat di Sillanan. Contoh Tongkonan Pangrapa' (Kabarasan)/ pemegang kekuasaan pemerintahan. Bila ada orang yang meninggal dan dipotongkan 2 ekor kerbau, satu kepala kerbau dibawa ke Tongkonan Pangrapa' untuk dibagi-bagi turunannya.

 Rumah Adat Provinsi Sulawesi selatan ( Rumah Tongkonan )


Stara sosial di masayarakat Sillanan di bagi atas 3 tingkatan yaitu:

    Ma'dika (darah biru/keturunan bangsawan);
    To Makaka (orang merdeka/bebas);
    Kaunan (budak), budak masih dibagi lagi dalam 3 tingkatan.
.
Rumah Adat Provinsi Sulawesi selatan ( Rumah Tongkonan )

Sejarah Kabarasan:
Pada awalnya Kabarasan dipegang oleh Tintribuntu yang berkedudukan di Buntu Lalanan (rumah adat Buntu sebelah barat). Kemudian Anaknya Tintribuntu yaitu Tome kawin dengan anak dari Tongkonan Sangtanete Jioan (Tongkonan Sangtanete sebelah timur). Sampai dipertahankan oleh Pong Paara' di Sangtanete Jioan. Setelah Pong Paara' meninggal (tidak ada anaknya), akhirnya muncul pemberani dari Doa' (Rumah adat Doa') yaitu So'Padidi (alias Pong Arruan). Kabarasan dipindahkann ke Doa'. Kekuasaan lemah di Doa' setelah So' Padidi meninggal, karena semua anaknya adalah perempuan 3 orang, sehingga muncul tipu muslihat yang mengatakan bahwa bisa dipotongkan kerbau 3 ekor saja. Karena minimal kerbau dikorbankan adalah 4, maka Doa' dianggap tidak mampu memegang kekuasaan. Akhirnya dibawa Boroalla ke Tonngkonan Pangrapa', sampai saat ini.

Sumber : Dari berbagai sumber


Foto : dari berbagai sumber

Rumah adat lainnya:
Rumah Adat Nusantara 33 Provinsi di Indonesia
Rumah Adat Provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta
Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah (JOGLO)
Rumah Adat Provinsi Jawa Timur (Rumah JOGLO Situbondo) 
Rumah Adat Provinsi Banten (Rumah Badui)  
Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta (Rumah Kebaya)
Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon)
Rumah Adat Provinsi Bali (Rumah Gapura Candi Bentar)
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Rumah Musalaki )
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Barat ( Rumah Istana Sultan Sumbawa )
Rumah Adat Provinsi Bengkulu
Rumah Adat Provinsi Kepulauan Riau
Rumah Adat Provinsi Lampung (Nowou Sesat )
Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung (Rumah Rakit, Rumah Limas)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan (Rumah limas)
Rumah Adat Provinsi Jambi (Rumah Panjang )
Rumah Adat Provinsi Riau (Rumah melayu selaso jatuh kembar)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat (Rumah Gadang)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Utara (Rumah Bolon)
Rumah Adat Daerah Istimewa Aceh
Rumah Adat Provinsi Papua (Rumah Adat Honai)
Rumah Adat Provinsi Papua Barat (Rumah Honai)
Rumah Adat Provinsi Maluku Utara ( Rumah Baileo )   
Rumah Adat Provinsi Maluku ( Rumah Baileo ) 
Rumah Adat Provinsi Gorontalo ( Rumah Dulohupa dan Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Selatan ( Rumah Tongkonan )   
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tengah ( Rumah Tambi )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Utara ( Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tenggara ( Rumah Istana Buton / Malige )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat (Rumah Tongkonan) Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara (Rumah Baloy)   
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur ( Rumah Lamin )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan ( Rumah Banjar Bubungan Tinggi )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Tengah ( Rumah Betang )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Barat ( Rumah Istana Kesultanan Pontianak )




Mobile ads:


Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tengah ( Rumah Tambi )


Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tengah ( Rumah Tambi )
 Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tengah ( Rumah Tambi )

Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tengah (SULTENG),Rumah Adat, Rumah Tambi

Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tengah dikenal dengan nama Rumah Tambi. Rumah adat tambi memiliki Ciri khas bentuk persegi panjang dengan arsitektur rumah panggung. Bahan dasar dalam pembuatan rumah adat Tambi ini menggunakan kayu asli dan juga batu alam. Semakin tinggi dan besar rumah ini maka status sosial sang pemilik semakin tinggi.


Foto : dari berbagai sumber

Rumah adat lainnya:
Rumah Adat Nusantara 33 Provinsi di Indonesia
Rumah Adat Provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta
Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah (JOGLO)
Rumah Adat Provinsi Jawa Timur (Rumah JOGLO Situbondo) 
Rumah Adat Provinsi Banten (Rumah Badui)  
Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta (Rumah Kebaya)
Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon)
Rumah Adat Provinsi Bali (Rumah Gapura Candi Bentar)
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Rumah Musalaki )
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Barat ( Rumah Istana Sultan Sumbawa )
Rumah Adat Provinsi Bengkulu
Rumah Adat Provinsi Kepulauan Riau
Rumah Adat Provinsi Lampung (Nowou Sesat )
Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung (Rumah Rakit, Rumah Limas)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan (Rumah limas)
Rumah Adat Provinsi Jambi (Rumah Panjang )
Rumah Adat Provinsi Riau (Rumah melayu selaso jatuh kembar)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat (Rumah Gadang)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Utara (Rumah Bolon)
Rumah Adat Daerah Istimewa Aceh
Rumah Adat Provinsi Papua (Rumah Adat Honai)
Rumah Adat Provinsi Papua Barat (Rumah Honai)
Rumah Adat Provinsi Maluku Utara ( Rumah Baileo )   
Rumah Adat Provinsi Maluku ( Rumah Baileo ) 
Rumah Adat Provinsi Gorontalo ( Rumah Dulohupa dan Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Selatan ( Rumah Tongkonan )   
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tengah ( Rumah Tambi )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Utara ( Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tenggara ( Rumah Istana Buton / Malige )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat (Rumah Tongkonan) Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara (Rumah Baloy)   
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur ( Rumah Lamin )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan ( Rumah Banjar Bubungan Tinggi )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Tengah ( Rumah Betang )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Barat ( Rumah Istana Kesultanan Pontianak )


Mobile ads:


Rumah Adat Provinsi Sulawesi Utara ( Rumah Pewaris )

 
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Utara ( Rumah Pewaris )
 Rumah Adat Provinsi Sulawesi Utara ( Rumah Pewaris )

Rumah Adat Provinsi Sulawesi Utara (SULUT),Rumah Adat , Rumah Pewaris

Rumah Adat Provinsi Sulawesi Utara dinamakan Rumah adat pewaris. Rumah adat pewairs ini dibangun oleh suku asli Sulawesi Utara, yaitu Suku Minahasa. Ciri khas rumah adat pewaris ini adalah mempunyai bentuk seperti rumah panggung dan memiliki dua tangga pada bagian depan rumahnya. Hampir seluruh bagian rumah ini terbuat dari bahan dasar kayu. Kayu yang digunakan pun bukanlah jenis kayu yang sembarangan.

Foto : dari berbagai sumber

Rumah adat lainnya:
Rumah Adat Nusantara 33 Provinsi di Indonesia
Rumah Adat Provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta
Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah (JOGLO)
Rumah Adat Provinsi Jawa Timur (Rumah JOGLO Situbondo) 
Rumah Adat Provinsi Banten (Rumah Badui)  
Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta (Rumah Kebaya)
Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon)
Rumah Adat Provinsi Bali (Rumah Gapura Candi Bentar)
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Rumah Musalaki )
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Barat ( Rumah Istana Sultan Sumbawa )
Rumah Adat Provinsi Bengkulu
Rumah Adat Provinsi Kepulauan Riau
Rumah Adat Provinsi Lampung (Nowou Sesat )
Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung (Rumah Rakit, Rumah Limas)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan (Rumah limas)
Rumah Adat Provinsi Jambi (Rumah Panjang )
Rumah Adat Provinsi Riau (Rumah melayu selaso jatuh kembar)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat (Rumah Gadang)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Utara (Rumah Bolon)
Rumah Adat Daerah Istimewa Aceh
Rumah Adat Provinsi Papua (Rumah Adat Honai)
Rumah Adat Provinsi Papua Barat (Rumah Honai)
Rumah Adat Provinsi Maluku Utara ( Rumah Baileo )   
Rumah Adat Provinsi Maluku ( Rumah Baileo ) 
Rumah Adat Provinsi Gorontalo ( Rumah Dulohupa dan Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Selatan ( Rumah Tongkonan )   
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tengah ( Rumah Tambi )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Utara ( Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tenggara ( Rumah Istana Buton / Malige )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat (Rumah Tongkonan) Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara (Rumah Baloy)   
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur ( Rumah Lamin )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan ( Rumah Banjar Bubungan Tinggi )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Tengah ( Rumah Betang )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Barat ( Rumah Istana Kesultanan Pontianak )




Mobile ads:


Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara (Rumah Baloy)


Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara (Rumah Baloy)
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara (Rumah Baloy)

Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara Rumah Baloy.
Rumah adat baloy merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Kalimantan Utara. Rumah adat Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara Rumah Baloy terinspirasi dari rumah adat suk tidung yang juga berada di Kalimantan Utara. Ciri khas rumah adat Baloy ini adalah mempunyai arsitektur bangunan yang lebih indah daripada rumat adat lainnya yang ada di Kalimantan. Sehingga Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara Rumah Baloy ini dijadikan sebagai maskot daerah sekaligus sebagai media menarik wisatawan.

Foto : dari berbagai sumber

Rumah adat lainnya:
Rumah Adat Nusantara 33 Provinsi di Indonesia
Rumah Adat Provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta
Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah (JOGLO)
Rumah Adat Provinsi Jawa Timur (Rumah JOGLO Situbondo) 
Rumah Adat Provinsi Banten (Rumah Badui)  
Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta (Rumah Kebaya)
Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon)
Rumah Adat Provinsi Bali (Rumah Gapura Candi Bentar)
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Rumah Musalaki )
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Barat ( Rumah Istana Sultan Sumbawa )
Rumah Adat Provinsi Bengkulu
Rumah Adat Provinsi Kepulauan Riau
Rumah Adat Provinsi Lampung (Nowou Sesat )
Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung (Rumah Rakit, Rumah Limas)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan (Rumah limas)
Rumah Adat Provinsi Jambi (Rumah Panjang )
Rumah Adat Provinsi Riau (Rumah melayu selaso jatuh kembar)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat (Rumah Gadang)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Utara (Rumah Bolon)
Rumah Adat Daerah Istimewa Aceh
Rumah Adat Provinsi Papua (Rumah Adat Honai)
Rumah Adat Provinsi Papua Barat (Rumah Honai)
Rumah Adat Provinsi Maluku Utara ( Rumah Baileo )   
Rumah Adat Provinsi Maluku ( Rumah Baileo ) 
Rumah Adat Provinsi Gorontalo ( Rumah Dulohupa dan Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Selatan ( Rumah Tongkonan )   
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tengah ( Rumah Tambi )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Utara ( Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tenggara ( Rumah Istana Buton / Malige )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat (Rumah Tongkonan) Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara (Rumah Baloy)   
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur ( Rumah Lamin )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan ( Rumah Banjar Bubungan Tinggi )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Tengah ( Rumah Betang )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Barat ( Rumah Istana Kesultanan Pontianak )



Mobile ads:


Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur ( Rumah Lamin )


Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur (KALTIM), Rumah Adat , Rumah Lamin,
 Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur ( Rumah Lamin )

Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur (KALTIM), Rumah Adat , Rumah Lamin,

Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur dikenal dengan Rumah adat lamin. Rumah adat Lamin ini dibangun oleh suku asli Kalimantan, yaitu Suku Daya Timur. Ciri khas rumah adat ini adalah mempunyai corak ornamen Suku Dayak Timur yang terdapat pada bagian-bagian sisi rumah. Rumah lamin ini juga merupakan rumah adat terbesar di Indonesia.


Foto : dari berbagai sumber

Rumah adat lainnya:
Rumah Adat Nusantara 33 Provinsi di Indonesia
Rumah Adat Provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta
Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah (JOGLO)
Rumah Adat Provinsi Jawa Timur (Rumah JOGLO Situbondo) 
Rumah Adat Provinsi Banten (Rumah Badui)  
Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta (Rumah Kebaya)
Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon)
Rumah Adat Provinsi Bali (Rumah Gapura Candi Bentar)
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Rumah Musalaki )
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Barat ( Rumah Istana Sultan Sumbawa )
Rumah Adat Provinsi Bengkulu
Rumah Adat Provinsi Kepulauan Riau
Rumah Adat Provinsi Lampung (Nowou Sesat )
Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung (Rumah Rakit, Rumah Limas)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan (Rumah limas)
Rumah Adat Provinsi Jambi (Rumah Panjang )
Rumah Adat Provinsi Riau (Rumah melayu selaso jatuh kembar)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat (Rumah Gadang)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Utara (Rumah Bolon)
Rumah Adat Daerah Istimewa Aceh
Rumah Adat Provinsi Papua (Rumah Adat Honai)
Rumah Adat Provinsi Papua Barat (Rumah Honai)
Rumah Adat Provinsi Maluku Utara ( Rumah Baileo )   
Rumah Adat Provinsi Maluku ( Rumah Baileo ) 
Rumah Adat Provinsi Gorontalo ( Rumah Dulohupa dan Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Selatan ( Rumah Tongkonan )   
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tengah ( Rumah Tambi )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Utara ( Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tenggara ( Rumah Istana Buton / Malige )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat (Rumah Tongkonan) Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara (Rumah Baloy)   
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur ( Rumah Lamin )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan ( Rumah Banjar Bubungan Tinggi )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Tengah ( Rumah Betang )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Barat ( Rumah Istana Kesultanan Pontianak )



Mobile ads:


Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan ( Rumah Banjar Bubungan Tinggi )


Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan ( Rumah Banjar Bubungan Tinggi )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan ( Rumah Banjar Bubungan Tinggi )

Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan (KALSEL),Rumah Adat : Rumah Banjar Bubungan Tinggi

Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan disebut  Rumah Banjar Bubungan Tinggi. Rumah adat bubungan tinggi  ini dibangun oleh suku Dayak Selatan yang merupakan suku asli Kalimantan. Ciri khas rumah adat Bubungan Tinggi ini adalah mempunyai struktur bangunan yang tinggi dan kokoh. Rumah adat bubungan tinggi ini lebih mengutamakan kekokohan bangunan daripada daya tampung bangunannya.

Foto : dari berbagai sumber

Rumah adat lainnya:
Rumah Adat Nusantara 33 Provinsi di Indonesia
Rumah Adat Provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta
Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah (JOGLO)
Rumah Adat Provinsi Jawa Timur (Rumah JOGLO Situbondo) 
Rumah Adat Provinsi Banten (Rumah Badui)  
Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta (Rumah Kebaya)
Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon)
Rumah Adat Provinsi Bali (Rumah Gapura Candi Bentar)
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Rumah Musalaki )
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Barat ( Rumah Istana Sultan Sumbawa )
Rumah Adat Provinsi Bengkulu
Rumah Adat Provinsi Kepulauan Riau
Rumah Adat Provinsi Lampung (Nowou Sesat )
Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung (Rumah Rakit, Rumah Limas)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan (Rumah limas)
Rumah Adat Provinsi Jambi (Rumah Panjang )
Rumah Adat Provinsi Riau (Rumah melayu selaso jatuh kembar)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat (Rumah Gadang)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Utara (Rumah Bolon)
Rumah Adat Daerah Istimewa Aceh
Rumah Adat Provinsi Papua (Rumah Adat Honai)
Rumah Adat Provinsi Papua Barat (Rumah Honai)
Rumah Adat Provinsi Maluku Utara ( Rumah Baileo )   
Rumah Adat Provinsi Maluku ( Rumah Baileo ) 
Rumah Adat Provinsi Gorontalo ( Rumah Dulohupa dan Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Selatan ( Rumah Tongkonan )   
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tengah ( Rumah Tambi )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Utara ( Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tenggara ( Rumah Istana Buton / Malige )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat (Rumah Tongkonan) Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara (Rumah Baloy)   
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur ( Rumah Lamin )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan ( Rumah Banjar Bubungan Tinggi )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Tengah ( Rumah Betang )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Barat ( Rumah Istana Kesultanan Pontianak )


Mobile ads:


Rumah Adat Provinsi Kalimantan Tengah ( Rumah Betang )


Rumah Adat Provinsi Kalimantan Tengah , Rumah Betang
 Rumah Betang Rumah Adat Kalimantan Tengah (www.flickr.com)

Rumah Adat Provinsi Kalimantan Tengah , Rumah Betang,Rumah Adat Provinsi Kalimantan Tengah (KALTENG),Rumah Adat : Rumah Betang.

Rumah Adat Provinsi Kalimantan Tengah dikenal dengan Rumah Betang. Rumah adat Betang ini secara garus besar mempunyai kemiripan dengan rumah panjang. Ciri khas rumah adat ini adalah mempunyai ukuran yang sangat besar dan merupakan rumah adat terbesar kedua di Indonesia. Rumah adat ini mampu menampung 150 orang atau 30-35 keluarga.


Foto : dari berbagai sumber

Rumah adat lainnya:
Rumah Adat Nusantara 33 Provinsi di Indonesia
Rumah Adat Provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta
Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah (JOGLO)
Rumah Adat Provinsi Jawa Timur (Rumah JOGLO Situbondo) 
Rumah Adat Provinsi Banten (Rumah Badui)  
Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta (Rumah Kebaya)
Rumah Adat Provinsi Jawa Barat (Rumah Kasepuhan Cirebon)
Rumah Adat Provinsi Bali (Rumah Gapura Candi Bentar)
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Rumah Musalaki )
Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Barat ( Rumah Istana Sultan Sumbawa )
Rumah Adat Provinsi Bengkulu
Rumah Adat Provinsi Kepulauan Riau
Rumah Adat Provinsi Lampung (Nowou Sesat )
Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung (Rumah Rakit, Rumah Limas)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan (Rumah limas)
Rumah Adat Provinsi Jambi (Rumah Panjang )
Rumah Adat Provinsi Riau (Rumah melayu selaso jatuh kembar)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat (Rumah Gadang)
Rumah Adat Provinsi Sumatera Utara (Rumah Bolon)
Rumah Adat Daerah Istimewa Aceh
Rumah Adat Provinsi Papua (Rumah Adat Honai)
Rumah Adat Provinsi Papua Barat (Rumah Honai)
Rumah Adat Provinsi Maluku Utara ( Rumah Baileo )   
Rumah Adat Provinsi Maluku ( Rumah Baileo ) 
Rumah Adat Provinsi Gorontalo ( Rumah Dulohupa dan Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Selatan ( Rumah Tongkonan )   
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tengah ( Rumah Tambi )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Utara ( Rumah Pewaris )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tenggara ( Rumah Istana Buton / Malige )
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat (Rumah Tongkonan) Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara (Rumah Baloy)   
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur ( Rumah Lamin )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan ( Rumah Banjar Bubungan Tinggi )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Tengah ( Rumah Betang )
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Barat ( Rumah Istana Kesultanan Pontianak )


Mobile ads:


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mobi Info

...

Info Promo