Google Searching

Tanaman Kacang tanah (Arachis Hypogea)

Ngengat sutra (Bombyx Mori)


                                       Ngengat sutra (Bombyx Mori) Foto: sciencephoto.com

Ngengat sutra serangga dari kelas Bombycidae, merupakan serangga yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Hewan serangga ini merupakan penghasil sutra orisinal yang digemari akan kainnya

Bentuk ulat (larva) yang sering disebut ulat sutra lebih dikenal orang daripada bentuk dewasa (imago) dari hewan ini. Hewan ini sering diternakkan untuk diambil sutranya. Ulat sutra hanya memakan Daun Murbei (Morus alba). Ia berasal dari utara Tiongkok.

Telur ngengat sutra membutuhkan waktu sekitar 10 hari untuk menetas. Ulatnya membentuk kepompong sutra mentah, yang setelah dipintal bisa menghasilkan benang sutra / 300 hingga 900 meter per kepompong. Seratnya berdiameter sekitar 10 mikrometer.

Sebagaimana umumnya larva/ulat, ulat sutra sangat rakus; makan sepanjang siang dan malam sehingga tumbuh dengan cepat. Apabila warna kepalanya sudah menjadi semakin gelap, ulat sutra akan segera berganti kulit/cangkang. Dalam hidupnya, ulat sutra mengalami empat kali ganti kulit, hingga berwarna kekuningan dan lebih ketat, yang menjadi tanda akan segera membungkus diri dengan kepompong.

Sebelum ulat sutra menjadi matang dan keluar dari kepompongnya (kepompong digigiti hingga rusak dan tidak bernilai ekonomi), kepompong tersebut kemudian direbus untuk membunuh ulat sutra dan memudahkan penguraian seratnya. Adapun ngengat dewasa yang dipelihara untuk bibit ulat sutra tidak bisa terbang. Karena sejarahnya yang panjang dan nilai ekonominya yang tinggi, genom ulat sutra menjadi salah satu objek penelitian ilmiah.

Taksonomi Ngengat Sutera

Nama ilmiah: Bombyx mori

Kelas: Insecta

Spesies: Bombyx mori; L. f., 1758

Ordo: Lepidoptera

Filum: Arthropoda

Famili: Bombycidae

Kerajaan: Animalia

Genus: Bombyx

Siklus Kehidupan Ulat Sutra

Gambar dari: https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id

Proses pengolahan ulat sutra menjadi benang sutra 

1. Bertelurnya ngengat sutra (Bombyx mori) yang berwarna putih dan berpola coklat. 

Dilansir dari Sciencing, ngengat sutra tidak makan atau minum pada akhir siklus hidupnya melainkan akan kawin, bertelur, dan mati. Ngengat betina akan bertelur dalam jumlah besar, yaitu sekitar 200 hingga 400 butir telur. Ngengat betina akan menaruh dan merekatkan telurnya di atas daun murbey. Telur ngengat kemudian diinkubasi hingga 12 hari hingga menetas. 

Larva Larva yang baru menetas hanya berukuran 4 mili meter, namun mereka akan terus diberi makan daun murbei. Ulat sutra yang baru menetas ini sangatlah rakus, mereka makan dalam jumlah besar sehingga tubuhnyapun cepat membesar.

Pada proses membesar ini membuat kulit mereka mengelupas dan digantikan kulit yang baru. Proses ganti kulit ini bisa terjadi hingga empat kali hingga larva tumbuh menjadi ular sutera seukuran kurang lebih 8 cm. Setelah cukup makan, ulat kemudian akan membentuk kepompong atau pupa dengan cara memutar tubuhnya. 

Dilansir dari Biology Discussion, kepompong sutra terbuat dari lilitan benang yang tidak terputus sepanjang 300 meter dan dililitkan dengan gerakan kepala yang konstan dari satu sisi ke sisi lain sekitar 65 kali per menit. Kepompong sutra kemudian terbentuk sebagai kapsul berwarna putih. 

Kepompong sutra kemudian dipanen sebelum ulat sutera berubah menjadi ngengat dan memecah kepompongnya. Panen dilakukan kurang lebih sekitar satu minggu sejak kepompong dibuat.

Untuk pembuatan benang sutra. 

Kepompong sutra direbus dengan air panas, lalu pada kepompong akan dicari ujung seratnya dan mulai diurai. Setelah diurai, serat tersebut kemudian akan dipintal dengan cara dipintal menjadi satu helai benang sutera. Dari benang yang dihasilkan ini kemudian digulung layaknya benang biasa dan juga ditenun menjadi kain sutra yang indah.


Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Ngengat_sutra

https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/rpp/siklus-kehidupan-ulat-sutra/

https://www.kompas.com/skola/read/2021/08/24/113429569/proses-ulat-sutera-menjadi-benang


Komentar