Google Searching

Info

Selasa, 23 Januari 2018

Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tenggara ( Rumah Istana Buton / Malige )


Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tenggara
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tenggara


Negara Indonesia terdiri dari 33 Provinsi, salah satu provinsi yang ada di Pulau Sulawesi adalah Provinsi Sulawesi Tenggara dengan ibu kotanya Kota Kendari terletak di bagian tenggara Pulau Sulawesi.

Letak Geografis provinsi Sulawesi Tenggara berbatasan dengan Sulawesi Selatan di teluk Bone pada bagian barat,  bagian timur berbatasan dengan Provinsi Maluku di laut Banda, bagian Utara berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, sedangkan pada bagian selatan berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur di laut Flores.

Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki macam-macam rumah adat yang berasal dari suku Tolaki dan suku Wolio yang merupakan suku mayoritas di Sulawesi Tenggara. Rumah adat dari suku Tolaki disebut rumah Laika sedangkan rumah adat suku Wolio atau orang Buton disebut Banua Tada. Rumah adat Banua Tada yang menjadi ciri khas sulawesi tenggara adalah Malige atau Istana Kesultanan Buton. 

Istana Sultan Buton (disebut Kamali atau Malige) dibuat tanpa menggunakan tali pengikat maupun paku besi sebagai penguncinya,melainkan memakai pasak atau paku kayu. Istana ini dapat berdiri kokoh meski dibuat hanya dengan mengaitkan satu bagian dengan bagian lainnya.

Bahan dasar Istana Sultan Buton dibuat dari bahan kayu terdiri atas empat tingkat setiap tingkat memiliki luas yang berbeda. Ruang lantai pertama lebih luas dari lantai kedua. Sedangkan lantai keempat lebih besar dari lantai ketiga, jadi makin keatas makin kecil atau sempit ruangannya, tapi di lantai keempat sedikit lebih melebar.

Istana Sultan Buton memiliki banyak tiang, Tiang-tiang depan terdiri dari 5 buah yang berjajar ke belakang sampai delapan deret, hingga jumlah seluruhnya adalah 40 buah tiang. Tiang tengah menjulang ke atas dan merupakan tiang utama disebut Tutumbu yang artinya tumbuh terus. Tiang-tiang ini berbentuk segi empat terbuat dari kayu wala.

Masing masing tiang ini berbeda untuk rumah rakyat biasa, bentuk tiangnya bulat. Pada puncak tiang tiang ini biasanya  terpotong. Dengan melihat jumlah tiang sampingnya dapat diketahui siapa atau apa kedudukan si pemilik rumah tersebut. Rumah adat yang mempunyai tiang samping 4 buah berarti rumah tersebut terdiri dari 3 petak merupakan rumah rakyat biasa.
Rumah adat yang memiliki tiang samping 6 buah akan mempunyai 5 petak atau ruangan, rumah ini biasanya dimiliki oleh pegawai Sultan atau rumah anggota adat kesultanan Buton. Untuk rumah adat yang mempunyai tiang samping 8 buah berarti rumah tersebut mempunyai 7 ruangan dan rumah adat ini  khusus untuk rumah Sultan Buton.
 
Susunan ruangan dalam istana ini adalah sebagai berikut:

1 Lantai pertama terdiri dari 7 petak atau ruangan.
Pada ruangan pertama dan kedua berfungsi sebagai tempat menerima tamu atau ruang sidang anggota Hadat Kerajaan Buton. Ruangan ketiga dibagi dua, yang sebelah kiri dipakai untuk kamar tidur tamu, dan sebelah kanan sebagai ruang makan tamu. Ruangan keempat juga dibagi dua, berfungsi sebagai kamar anak-anak Sultan yang sudah menikah. Ruang kelima sebgai kamar makan Sultan, atau kamar tamu bagian dalam, sedangkan ruangan keenam dan ketujuh dari kiri ke kanan dipergunakan sebagai kamar anak perempuan Sultan yang sudah dewasa, kamar Sultan dan kamar anak laki-laki Sultan yang dewasa.


2 Lantai kedua dibagi menjadi 14 buah kamar.
Ke empat belas kamar tadi memiliki fungsi masing masing yaitu 7 kamar di sisi sebelah kanan dan 7 kamar di sisi sebelah kiri. Tiap kamar mempunyai tangga sendiri-sendiri hingga terdapat 7 tangga di sebelah kiri dan 7 tangga sebelah kanan, seluruhnya 14 buah tangga. Fungsi kamar-kamar tersebut adalah untuk tamu keluarga, sebagai kantor, dan sebagai gudang. Kamar besar yang letaknya di sebelah depan sebagai kamar tinggal keluarga Sultan, sedangkan yang lebih besar lagi sebagai Aula.

3 Lantai ketiga berfungsi sebagai tempat rekreasi

4 Lantai keempat berfungsi sebagai tempat penjemuran.
Disamping kamar bangunan Malige terdapat sebuah banguan seperti rumah panggung mecil, yang dipergunakan sebagai dapur, yang dihubungakan dengan satu gang di atas tiang pula. Pada anjungan bangunan ini di pergunakan sebagai kantor anjungan.

Pada bangunan rumah adat Malige terdapat 2 macam hiasan, yaitu ukiran naga yang terdapat di atas bubungan rumah, serta ukiran buah nenas yang tergantung pada papan lis atap, dan dibawah kamar-kamar sisi depan.
Kedua jenis hiasan tersebut mengandung makna yang sangat dalam bagi kesultanan Buton, yakni ukiran naga merupakan lambang kebesaran kerajaan Buton. Sedangkan ukiran buah nenas, melambangkan bahwa hanya ada satu Sultan di dalam kerajaan Buton. Bunga nenas bermahkota, berarti bahwa yang berhak untuk dipayungi dengan payung kerajaan hanya Sultan Buton saja. Nenas merupakan buah berbiji, tetapi bibit nenas tidak tumbuh dari bibit itu, melainkan dari rumpunnya timbul tunas baru. ini berarti bahwa kesultanan Buton bukan sebagai pusaka anak beranak yang dapat diwariskan kepada anaknya sendiri. Falsafah nenas in dilambangkan sebagai kesultanan Buton, dan Malige Buton mirip rongga manusia.

Lihat Juga: Rumah adat Nusantara

Lihat juga aneka Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tenggara:

Rumah Adat Banua Tada   
Rumah Adat Laika
Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tenggara ( Rumah Istana Buton / Malige )


Info bisnis lainnya:


..


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mobi Info

...

Lazada Promo